Menikmati Santapan Khas Jawa di Angkringan Joglo

Santi Andriani, Jurnalis · Senin 13 April 2015 13:05 WIB
https: img.okezone.com content 2015 04 13 298 1133200 menikmati-santapan-khas-jawa-di-angkringan-joglo-IV2vyeJ1IC.jpg Makanan di Angkringan Joglo (Foto:Danianggoro)

TAK sekadar mengenyangkan perut, kegiatan menyantap hidangan kini menjadi budaya yang semakin kompleks, seperti ajang bersosialisasi lewat obrolan santai bahkan serius. Ini yang mendasari tiga sekawan, Dani Anggoro, Aldo dan Rumin untuk membuat rumah makan bergaya Jawa, Angkringan Joglo.

Selepas kelulusan dan mengadu nasib ke Ibu Kota pada 2010, Dani dan Aldo yang merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, kangen dengan kebiasaan makan yang dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol santai di kedai angkringan di seputaran Yogyakarta.

"Lebih karena kangen ya, dulu pas masih kuliah hampir setiap hari kita makan di angkringan sambil ngobrol, ngumpul-ngumpul sama teman-teman. Ya kangen sama makanannya, juga kangen sama suasananya," kenang Dani Anggoro ketika berbincang dengan Okezone di Angkringan Joglo yang berlokasi di Kampung Utan, Ciputat, Tangerang Selatan.

Bersama dengan temannya yang orang Jakarta, Rumin, tiga sekawan ini pun memutuskan membuka usaha tempat makan bertema angkringan. Beruntung memiliki lahan yang luas, Dani mengaku tidak ingin hanya sekadar memarkirkan gerobak angkringan di pinggir jalan, seperti angkringan yang banyak dijumpai. Mereka pun memilih membangun joglo, rumah khas Jawa. Sebuah gerobak khas angkringan tetap ada untuk menaruh sate-satean, nasi kucing dan beberapa hidangan lainnya.

Mereka lalu membuat dua jenis area makan. Bagi yang ingin benar-benar mendapatkan suasana Jawa dan lesehan, bisa makan di dalam joglo yang sudah dialasi tikar. Sedangkan yang ingin outdoor dan duduk di kursi, bisa makan di halaman dengan berhiaskan pohon-pohon belimbing wuluh.

"Enggak muluk-muluk, pengen-nya tamu bisa betah berlama-lama, mau ngobrol sepuasnya, nongkrong-nongkrong. Dengan sendirinya nanti kan nambah makannya," kata Dani sambil tertawa.

Soal hidangan sama seperti angkringan pada umumnya, menu utamanya tentu saja adalah nasi yang dibungkus dalam ukuran kecil atau yang biasa disebut nasi kucing, yang lengkap dengan isian orek tempe atau ikan teri. Sate-satean seperti sate telur puyuh, sate usus, sate ati-ampela, sate kikil, sate kulit ayam, bahkan sate sosis, tempe-tahu bacam, kepala ayam, tempe mendoan, hingga garang asam ayam dan pepes.

Tamu bisa mengambil sendiri nasi dan lauk yang mereka inginkan dalam sebuah piring lalu selanjutnya diserahkan ke pelayan untuk digoreng atau sekedar dihangatkan.

Untuk minumannya, beragam minuman khas Jawa juga tersedia. Seperti teh jawa teh poci, teh jahe, wedang jahe, wedang uwuh, secang, segala macam kopi, hingga minuman dingin dengan campuran es batu.

Meski tempat makannya terbilang lebih nyaman, namun harga-harga makanannya tidak jauh berbeda dengan angkringan pada umumnya. Misalnya sate-satean dibanderol Rp3000 per tusuk, nasi kucing Rp2500, tempe mendoan Rp1000 per buah, garang asam Rp7000 per buah. Sedangkan untuk minuman tidak lebih dari Rp8000, hanya teh poci yang dibandrol Rp15 ribu dan wedang uwuh Rp12 ribu.

Malam itu Okezone memilih menyantap, nasi kucing isian ikan teri, sate usus, tempe mendoan dan garang asam. Hidangan yang membuat penasaran yaitu indomie putih pun turut dipesan. Segelas teh manis hangat untuk sekedar menghangatkan tubuh. Sementara lidah dimanjakan dengan nasi kucing, telinga pun dimanjakan dengan alunan gending jawa. Benar, jika kekangenan dengan suasana Yogyakarta sedikit terobati.

Mengobrol santai dengan si pemilik yang ramah, tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Betul saja, makan kini tak hanya sekedar urusan perut, suasana yang nyaman membuat orang betah berlama-lama walau hanya untuk mengobrol. Angkringan Joglo buka setiap hari mulai pukul 17.00 WIB hingga dini hari. (yac)

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini