Manuk Nom Puding Tradisional Khas Yogyakarta

Dinno Baskoro, Jurnalis · Senin 13 April 2015 15:18 WIB
https: img.okezone.com content 2015 04 13 298 1133297 manuk-nom-puding-tradisional-khas-yogyakarta-EarEluAE1J.jpg Contoh hidangan manuk nom (Foto:Foodspotting)

YOGYAKARTA memang selalu jadi destinasi menarik untuk berwisata kuliner. Tidak hanya makanan khas Jawa yang bisa Anda temui di Kota Gudeg ini, tapi juga beberapa makanan yang memiliki nilai sejarah.

Salah satunya adalah manuk nom, dalam bahasa Jawa. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, kata ini memiliki makna "burung muda". Namun, hidangan ini benar-benar tidak terbuat dari daging burung atau sejenisnya. Melainkan bentuknya yang seperti burung kecil. Sajian sejenis puding ini dilengkapi dengan dua emping melinjo yang diletakkan di atas pudingnya menyerupai sayap burung.

Hidangan ini terbuat dari tape ketan hijau dengan paduan telur dan beberapa bahan lainnya. Konon, puding tradisional ini merupakan salah satu sajian khas Kesultanan Yogyakarta. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII, tepatnya pada 1877 hingga 1921, manuk nom sering disajikan sebagai makanan penutup.

Tapi, pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939) manuk nom disuguhkan sebagai makanan pembuka. Meski demikian, manuk nom tetap menjadi sebagai makanan favorit khas Kesultanan Keraton Yogyakarta. Biasanya, manuk nom disajikan dengan alas daun pisang dan ditata sedemikan rupa sehingga tampak menggugah selera.

"Puding ini memang unik, rasanya manis tapi dimakan pakai emping melinjo dan tidak akan bisa ditemui di daerah manapun. Rasanya akan menyatu dan sangat lezat," jelas Ary Laksono, General Manager Joglo Patheya kepada Okezone di Jakarta.

Jika Anda ingin mencicipi sajian khas Kesultanan Keraton Yogyakarta ini tidak usah jauh-jauh. Di Joglo Patheya Restaurant, yang letaknya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Anda bisa menikmati kelezatan dan keunikan manuk nom ini. (yac)

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini