Didi Budiardjo Angkat Pamor Batik Pekalongan

Ainun Fika Muftiarini, Jurnalis · Jum'at 29 Mei 2015 20:29 WIB
https: img.okezone.com content 2015 05 29 194 1157522 didi-budiardjo-angkat-pamor-batik-pekalongan-FexZvd1Nwk.jpg Didi Budiardjo angkat pamor batik Pekalongan (Foto: Okezone)

PANGGUNG mode Jakarta Fashion and Food Festival ditutup dengan peragaan busana Didi Budiharjo. Di peragaan tersebut, Didi Budiardjo mengangkat kembali pamor batik khas Pekalongan.

Sang desainer menuturkan jika peragaan ini sangat spesial. Bukan hanya menjadi acara puncak rangkaian JFFF, tapi juga kesempatan untuk menunjukkan proses membatik.

"Semua orang Indonesia pernah pakai batik. Tapi prosesnya tidak tahu. Membuat batik itu prosesnya panjang. Jadi kali ini, saya dapat ide untuk menunjukkan bagaimana proses membatik," jelas Didi Budiardjo di Hotel Haris Kelapa Gading, Jakarta.

Dalam proses membatik, Didi Budiarjo yang bekerja sama dengan Dekranasda Pekalongan, terlibat langsung dalam mencari pengrajin batik. Tentu saja, hal ini dilakukan untuk mendapatkan kualitas kain batik terbaik sesuai standar seorang Didi Budiardjo.

"Prosesnya sangat cepat, tiga bulan itu sudah sama survei ke Pekalongan dan mengolah," imbuhnya.

Untuk peragaan tersebut, ada 43 busana yang dipamerkan. Menurut Didi Budiardjo, ini menjadi peragaan dengan jumlah busana terbanyak yang pernah dilakukannya.

Seluruh busana karya Didi Budiardjo kemudian dikemas dengan tema Uri-Uri. Didi Budiardjo pun punya alasan khusus terkait tema peragaan busana bernuansa resort itu.

"Uri-Uri artinya merawat untuk melestarikan supaya tetap hidup. Supaya batik khas Pekalongan tetap lestari," tutur Didi Budiardjo.

Dengan tema dan nuansa tersebut, Didi Budiardjo pun menerjemahkannya dalam berbagai model busana. Di antaranya midi dress, gaun dan dress model strapless, gaun renda ala noni Belanda, kebaya encim, swimsuit hingga outer seperti kimono.

Sementara untuk motifnya, busana rancangan Didi Budiardjo kali ini cukup beragam. Mulai dari motif jlamprang asli Pekalongan, bunga, serta burung layang menukik yang berarti keberuntungan.

Bagi Didi Budiarjo, koleksi kali ini bukan sekadar pergelaran busana. Tapi ia mengibaratkan sebagai cerita sebuah perjalanan dari batik. Apalagi dalam sejarahnya, batik Pekalongan memang melewati berbagai era. Mulai dari Pangeran Diponegoro, Belanda, Jepang, hingga setelah era kemerdekaan, di mana batik Pekalongan lebih berkembang.

"Batik Pekalongan itu adaptif, jadi menyerap era. Ini sebuah perjalanan dimulai dari kota pesisir, lalu berlayar ke mancanegara," terangnya.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini