Bayi Lahir Berat Rendah Berisiko Kena Penyakit Menular

Erika Kurnia, Jurnalis · Rabu 10 Juni 2015 19:44 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 10 481 1163437 bayi-lahir-berat-rendah-berisiko-kena-penyakit-menular-vs8qB00OWi.jpg Risiko bayi lahir rendah (Foto: News)

TUMBUH kembang anak yang terganggu selama 1000 hari pertama kehidupan dianggap sebagai salah satu faktor ketertinggalan dan kelemahan fisik anak. Bahkan kini para peneliti menghubungkan berat badan bayi yang rendah, saat lahir dengan risiko penyakit tidak menular di masa mendatang.

“Menurut satu penelitian, masalah pertumbuhan di usia dini meningkatkan risiko penyakit tidak menular di kemudian hari. Kekurangan zat gizi tertentu pada Ibu hamil berdampak plastis pada janin dan tidak dapat dikembalikan,” kata Dr dr Anies Irawati, MKes, dalam pertemuan ilmiah berkala di Kantor Balitbangkes, Jakarta, Rabu (10/6/2015).

Berat dan tinggi badan bayi yang rendah saat dilahirkan dan kurangnya gizi anak sebelum usia 23 bulan, diklaim berhubungan dengan pertumbuhan organ vital tubuh yang tidak proporsional. Hal tersebut menjadi faktor perkembangan penyakit tidak menular anak di kemudian hari.

"Risiko terjadinya penyakit tidak menular atau kronis tergantung organ yang terkena. Bila ginjal, maka akan menderita hipertensi dan gangguan ginjal, bila pankreas makan akan berisiko penyakit diabetes. Nah, bayi yang lahir di bawah 3 kg dan panjang kurang dari 50 cm, 30 persen berisiko terkena penyakit tidak menular," kata peneliti senior Balitbangkes tersebut.

Anies kini menjadi peneliti studi kohor Tumbuh Kembang Anak di Kota Bogor yang telah dimulai sejak 2012. Penelitian yang akan berlangsung hingga 10 tahun ini dilakukan di lokasi sama dengan daerah studi kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular oleh Balitbangkes sejak 2011.

Setelah dua tahun, penelitian telah menghasilkan berbagai data, termasuk angka pertumbuhan dan perkembangan anak serta penilaian terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak sampai usia 23 bulan. Sampai Mei 2015, terdapat responden yang terdiri dari 574 ibu hamil di mana 443 ibu yang sudah melahirkan.

“Hasil studi kami, 80 persen ibu di semua trimester kekurangan energi dan protein. Sementara asupan vitamin A mereka tidak bermasalah, kecukupan asam folat hanya 20-35 persen, zat besi 17-38 persen, dan zinc 14-36,5 persen. Ini mengkhawatirkan karena kekurangan asam folat, zinc, dan zat besi meningkatkan risiko bayi terganggu pertumbuhan dan perkembangannya,” paparnya.

Sejauh ini penelitian telah menyimpulkan faktor status gizi wanita (baik sebelum maupun selama kehamilan), pemenuhan gizi anak sebelum usia 23 bulan, termasuk pola asuh anak sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak yang sehat.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini