Busana Pengantin Gibran-Selvi Dinilai Terlalu Biasa

Evi Elfira, Jurnalis · Kamis 11 Juni 2015 14:00 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 11 194 1163787 busana-pengantin-gibran-selvi-dinilai-terlalu-biasa-c4KGra1tc2.jpg Busana pengantin Gibran-Selvi dinilai terlalu biasa (Foto: Maulana Surya/Antara)

BANYAK orang yang mengagumi kesederhanaan busana pengantin Gibran Rakabuming-Selvi Ananda. Kendati demikian, ada pula yang menilai busana pengantin Gibran-Selvi terlalu biasa.

Mengusung konsep pernikahan yang sederhana, ternyata menjadi penilaian tersendiri untuk Gibran-Selvi. Pengamat mode Sony Muchlison merasa kesederhanaan yang ditampilkan Gibran-Selvi terkesan terlalu biasa.

“Terlalu biasa, saking biasanya tidak tahu uniknya, di mana khasnya. Walau ada modifikasi di busananya, tapi tanggung. Pakemnya di mana dan yang tidak pakem di mana itu tidak terlihat,” kata Sony Muchlison saat siaran langsung di iNews TV, Kamis (11/6/2015).

Misalnya saja, Gibran berusaha memberikan sentuhan modern melalui dasi kupu-kupu yang digunakannya pada prosesi ijab kabul. Namun, Sony Muchlison merasa tampilan dasi kupu-kupu tersebut akan tampak lebih menarik dengan bahasa tubuh yang sesuai dengan gaya tersebut.

“Itu dasi kupu-kupunya terlalu besar dan kalau mau memadukan budaya Barat dibawakannya juga perlu gesture Barat. Misalnya, kenapa perempuan lebih enak pakai kebaya karena sudah tahu bahasa tubuhnya saat pakai itu. Begitu juga saat pakai evening gown, harus bawa body language dari orang Barat. Kalau Gibran, unsurnya memadukan Barat dan jawa, tapi dari sikapnya tidak begitu,” imbuh Sony Muchlison.

Sebagai lulusan luar negeri, Gibran dirasa Sony Muchlison tentu memahami bagaimana pengetahuan dalam mengenakan dasi kupu-kupu. Karena dalam proses terburu-buru, tampilan dasi kupu-kupu yang dikenakan Gibran pun dirasa tidak pas oleh pengamat mode yang dikenal dengan kritik pedasnya ini.

“Pasang dasi kupu-kupu itu butuh pengetahuan. Ukurannya dengan lingkar leher dan tubuh harus pas. Seimbang dan pas. Walau dikenakan oleh orang lain, pastinya terburu-buru. Tapi sebagai lulusan Belanda, Gibran tentunya tahu bagaimana cara memakai dasi kupu-kupu,” ujarnya.

Kendati demikian, Sony Muchlison sangat menghargai dan bangga dengan konsep pernikahan Gibran-Selvi yang sederhana serta melibatkan rakyat. Untuk urusan penampilan, Sony menyarankan untuk selalu mengetahui bahasa tubuh yang baik agar elegansi busana dapat terlihat.

“Yang namanya glamor dengan bersahaja itu berbeda. Tetapi untuk elegansi itu bisa ada di mana-mana. Namun tanpa bahasa tubuh, keleganan itu tidak akan berbicara banyak dengan penampilan itu sendiri,” pungkas Sony Muchlison.

(fik)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini