Legitnya Timphan, Sajian Khas Lebaran di Aceh

Salman Mardira, Jurnalis · Jum'at 17 Juli 2015 19:41 WIB
https: img.okezone.com content 2015 07 17 298 1182990 legitnya-timphan-sajian-khas-lebaran-di-aceh-Aa9eqSBToL.jpg Legitnya timphan, sajian Lebaran khas di Aceh (Foto: Salman/Okezone)

KALAU di daerah lain, Lebaran identik dengan makan ketupat, rendang, atau lontong sayur. Di Aceh, ada timphan. Kudapan legit ini menjadi sajian paling khas bagi masyarakat provinsi Serambi Makkah saat hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Kue tradisional berbahan pisang dan tepung ketan ini bukan sekadar makanan pengganjal perut. Tapi juga simbol keakraban dan sajian kemuliaan kepada tamu yang datang saat Lebaran.

"Melayani tamu dengan timphan lebih mulia rasanya. Ini sudah turun-temurun dari orang-orang tua dulu," kata Mardiana (59) warga Gampong Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Alasan itu pula yang membuat tiap rumah tangga seakan wajib menyediakan timphan saat hari raya. Meski aneka kue lain sudah tersedia, sebagian orang tetap merasa belum lengkap jika tak ada timphan di dalamnya.

Bahkan, ada narit maja alias peribahasa Aceh fenomenal berkaitan dengan timphan saat lebaran, yakni “uroe get beuleun get, timphan mak peugot beu meutumei rasa” atau hari baik bulan baik, timphan buatan ibu harus bisa kita rasakan.

Dua atau sehari jelang lebaran, biasanya ibu-ibu di kampung-kampung mulai menyisihkan waktu untuk membuat timphan. Pisang atau labu sudah disiapkan sebelumnya bersama tepung ketan.

Tujuannya bukan hanya disajikan untuk tamu Lebaran, tapi timphan itu nantinya juga disuguhkan kepada anggota keluarganya yang tiba dari mudik. Tradisi ini sudah dilakoni turun-temurun.

Ada dua jenis timphan, yaitu timphan asoe kaya yang isinya srikaya dan timphan u (isinya kelapa). Kedua jenis timphan ini sama lezatnya. Rasanya legit, permukaannya lembut dan khas dengan aroma daun pisang. Kudapan ini disukai semua usia.

Cara buat timphan sederhana. Bahan utamanya pisang atau boleh juga diganti dengan labu, ubi, pepaya, tinggal pilih sesuai selera. Salah satu buah itu dikupas, kemudian diremas-remas dengan tangan hingga licin, selanjutnya dimasukkan tepung ketan dan sedikit garam. Remas serta aduk hingga jadi adonan yang kenyal dan lembut.

Adonan itu kemudian dicomot, diletakkan di atas daun pisang muda yang sudah diolesi minyak goreng agar tidak lengket saat masak, kemudian ditekan lembut dengan jari hingga melebar tipis.

Selanjutnya, tambahkan isi sesuai selera, bisa srikaya atau kelapa yang sudah dicampur gula. Kemudian bungkusan daun pisang digulung seperti permen dan ujungnya dilipat.

Proses berikutnya adalah memasak atau mengukusnya sekitar 10 menit hingga daunnya lebam atau matang. Timphan pun siap dihidangkan. Makanan ini bisa tahan hingga tiga hari, meski tanpa menggunakan pengawet.

Dalam tradisi Aceh, timphan bukan hanya suguhan Lebaran. Kudapan ini juga sering menjadi hidangan hajatan adat atau kenduri-kenduri tradisional. Kerap juga jadi buah tangan saat bertamu ke sanak saudara. Sekarang timphan juga mudah dijumpai di warung-warung kopi tradisional di Aceh.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini