Curhatan 'Mad Dog' tentang Pencak Silat Indonesia

Ariesta Asri, Jurnalis · Sabtu 05 September 2015 05:12 WIB
https: img.okezone.com content 2015 09 04 196 1208358 curhatan-mad-dog-tentang-pencak-silat-indonesia-hAhanLaEDE.jpg Yayan Ruhian (Foto: Okezone)
BAGI Anda penggemar film action pasti tidak asing dengan film 'The Raid'. Salah satu peran penting dalam film tersebut adalah ‘Mad Dog’ yang diperankan oleh Yayan Ruhian. Aksi ‘Mad Dog’ dalam melakukan adegan silat banyak menuai kekaguman.
 

Yayan merupakan pria asli Indonesia. Dilahirkan di Tasikmalaya, 19 Oktober 1968, ia mulai belajar pencak silat sekitar usia 12-13 tahun di desa kelahirannya.

“Saya berasal dari sebuah kampung kecil di Tasikmalaya. Waktu itu mikirnya remaja harus bisa berantem karena lak-laki. Waktu itu masih jarang ada perguruan silat jadi saya belajarnya sama orang yang bisa silat, bisalah disebut jawara,” kisah Yayan saat berkunjung ke kantor Okezone dalam rangka promo film 'Gangster'.

Seiring berjalannya waktu, ia kemudian menemukan sebuah perguruan yang terorganisir bernama Kateda Indonesia. Kini melalui nama PTSD (Pencak Silat Tenaga Dalam) Indonesia, Yayan bernaung di bawah organisasi tersebut sekaligus menjadi pengajar.

Berbicara tentang perjalanan pencak silat di Indonesia, Yayan enggan mengatakan bahwa pencak silat sempat mundur. Ia lebih senang jika orang Indonesia memang membutuhkan ‘trigger’ untuk kembali melirik budayanya sendiri.

“Sama halnya dengan batik, wayang, dan budaya lainnya baru dianggap setelah mendapat penilaian baik dari bangsa luar. Pencak silat memang lebih banyak diminati bahkan dicintai oleh pencinta bela diri luar negeri. Baru melalui layar lebarlah masyarakat Indonesia mulai melirik kembali bela diri asli tanah air ini.”

Dikisahkan Yayan, pada tahun 2007 ia pernah diundang sebagai tamu di festival pencak silat Bercy Prancis. Antusiasme masyarakat internasional terhadap pencak silat benar-benar di luar dugaan. Tim pencak silat dari Indonesia benar-benar dihormati hingga mampu tampil bersama 'nayaga' (iringan tabuhan) lengkap memainkan live musik. Setelahnya, Yayan diminta menetap di Prancis selama tiga bulan untuk mengajar pencak silat.

“Bahkan di Belanda kami mengadakan seminar pencak silat selama 10 hari. Gedung olahraga tempat pentas disulap menjadi semacam kafe dan panitia menjual tiket untuk melihat aksi kami. Tiket selalu sold out,” kenang Yayan sambil tersenyum.

“Orang-orang asing yang mau belajar pencak silat itu bukannya orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang bela diri. Mereka datang untuk belajar pencak silat dengan kemampuan bela diri mereka yang sudah mumpuni,” lanjutnya.

Lucunya, seminar pencak silat yang diadakan di Indonesia kalah banyak pesertanya jika dibandingkan seminar yang diadakan di luar negeri. Seminar baru ramai pengunjung jika panitia mendatangkan ‘jagoan bule’. Padahal, warga negara asing yang jago pencak silat belajar dari orang Indonesia.

“Pencak silat di Indonesia memprihatinkan banget sih enggak. Tapi, dalam beberapa kali kejuaraan dunia, atlet-atlet Indonesia dikalahkan atlet asing. Di satu sisi kecewa padahal silat bela diri asli Indonesia, tapi di sisi lain bangga karena pencak silat sudah diakui di kancah internasional,” pungkas ‘Mad Dog’ menutup perbincangan.

(vin)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini