nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dapur Halal dan Non-Halal dalam Rumah Mayor di Bangka Belitung

Santi Andriani, Jurnalis · Kamis 10 September 2015 11:56 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2015 09 10 298 1211694 dapur-halal-dan-non-halal-dalam-rumah-mayor-di-bangka-belitung-KustBtyjiw.jpg Ilustrasi memasak (Foto: Shutterstock)

KERUKUNAN hidup beragama dan saling menghargai kepercayaan orang lain terekam dalam kehidupan sang Mayor China, Chung A Tiam semasa mendiang masih hidup.  Hal ini terungkap dari kepemilikan dua bangunan dapur berbeda di bekas kediaman Chung A Tiam di Rumah Mayor China di Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung.

Memiliki dua dapur yang masing-masing sangat besar bagi seorang saudagar kaya raya pada masanya itu, sekira 1834, tentu bukan hal mengherankan. Namun, dapur itu bukan tanpa maksud tujuan dibuat.

Foto sang Mayor (Foto: Santi/Okezone)

Di belakang bangunan rumah utama, pada sayap kiri dan kanan, terdapat dua bangunan rumah yang diperuntukkan sebagai dapur. Pada sayap kiri yaitu dapur untuk mengolah hidangan Chinesse food, sementara pada sayap kanan adalah dapur untuk mengolah hidangan khas Melayu.

"Jadi kalau ada tamu-tamu Mayor yang orang Melayu atau bukan orang China, maka suguhannya dibuat di dapur khusus Melayu. Ini untuk menjaga olahan hidangan tidak terkena dengan bahan-bahan yang mungkin tidak boleh disantap oleh kepercayaan agama lain," kata Hendra, generasi ke-6 dari Mayor, yang kini menjaga sekaligus menempati Rumah Mayor China, kepada Okezone, Rabu 9 September 2015.

Berbeda dengan bangunan utama yang masih utuh, kedua dapur kini sudah tidak digunakan lagi. Dapur makanan khas China beberapa bangunannya bahkan sudah rusak akibat terkena bom pasukan Jepang pada Perang Dunia ke-II. Pihak keluarga lebih memilih menggunakan salah satu ruangan lebih kecil sebagai dapur.

Bagian interior rumah sang Mayor (Foto: Santi/Okezone)

Perabotan rumah tangga seperti lemari, meja dan kursi kayu, juga terbilang masih utuh. Salah satu hal unik yang Okezone temukan di teras belakang adalah dua buah bangunan terbuat dari kayu, yang sangat besar mirip gerbong kereta api. Masing-masing berada di sayap kanan dan sayap kiri.

"Dulu ini digunakan sebagai tempat tidur misalnya kalau ada tamu yang datang atau pelayan, karena memang sangat besar. Sekarang kami juga masih manfaatkan sebagai tempat tidur dan tempat menaruh barang-barang," ungkap Hendra.

(yac)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini