nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bunuh Diri Masih Jadi Penyebab Kematian Tertinggi

Erika Kurnia, Jurnalis · Jum'at 11 September 2015 14:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 09 11 481 1212488 bunuh-diri-masih-jadi-penyebab-kematian-tertinggi-LtVb8YpQzd.jpg Pemakaman (Foto: Wikipedia)

KESADARAN akan upaya bunuh diri harus ditingkatkan masyarakat untuk mencegah dan membuang stigma negatif tentang bunuh diri. Hal ini menjadi penting mengingat kasus bunuh diri terus meningkat.

“Ada banyak faktor yang membuat seseorang bunuh diri. Namun, bunuh diri tidak perlu terjadi kalau kita sebagai masyarakat mau peduli. Kita harus lebih peka saat melihat perubahan perilaku yang drastis pada orang yang kita kenal,” kata dr Eka Viora, SpKJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI, dalam media briefing, di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jumat (11/9/2015).

Di Indonesia, angka bunuh diri pada 2012 berkisar 1,6 sampai 1,8 kasus per 100.000 jiwa. Kini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasikan angka bunuh diri mencapai 4,3 per 100.000 populasi. Sementara, Mabes Polri mencatat rasio bunuh diri berkisar 0,4 sampai 0,5 per 100.000 pada 2012.

“Jumlah ini diperkirakan akan meningkat bila perhatian masyarakat dan sistem pelayanan kesehatan meningkat. Banyak kasus bunuh diri terselubung yang tidak tercatat karena dokter tidak memasukkan kasus bunuh diri atau percobaannya sebagai diagnosis. Belum lagi keluarga yang menutup kasus karena berbagai stigma,” ungkapnya.

Menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), kasus bunuh diri terus mengalami peningkatan di berbagai belahan dunia. Hampir satu juta orang meninggal setiap tahunnya akibat bunuh diri atau satu korban setiap empat puluh detik. Ini merupakan penyebab kematian nomor dua pada penduduk usia 15-29 tahun (WHO 2015).

“Dibandingkan dengan total korban perang dan pembunuhan, kasus bunuh diri lebih tinggi dengan persentase 57 persen. Bahkan 75 persen kasus terjadi di negara dengan penghasilan rendah dan miskin,” tambahdr Priska Primastuti, representasi WHO untuk Indonesia, pada kesempatan yang sama.

(yac)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini