nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pendekatan Jiwa Bantu Sembuhkan Pasien Gangguan Jiwa

Erika Kurnia, Jurnalis · Rabu 11 November 2015 21:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 11 11 481 1247670 pendekatan-jiwa-bantu-sembuhkan-pasien-gangguan-jiwa-A2Vpk58jS1.jpg

GANGGUAN jiwa adalah satu definisi untuk banyak kondisi yang melibatkan gangguan mental dan perilaku. Untuk menyembuhkan mereka dari lingkaran tersebut, pendekatan “jiwa” adalah hal yang utama bagi sosok Jamiin.

Pria asal Jombang ini telah mendedikasikan satu dekade lebih dari kehidupannya untuk menyelamatkan beribu-ribu masyarakat dengan gangguan jiwa. Jamiin mengaku, pendekatan “jiwa” atau psikologis yang diberikannya kepada “anak-anak” asuhnya di Yayasan Penuh Warna Griya Cinta Kasih sangat membantu.

“Kesehatan jiwa berhubungan dengan perilaku kita sehari-hari. Untuk sehat kita perlu pandai bersosialisasi dan mendapat kasih sayang. Oleh karena itu, saya dan relawan mencoba merawat orang-orang dengan gangguan jiwa ini degan kasih sayang dan keadilan dalam menolong dan berkorban,” tuturnya saat ditemui Okezone, Studio iNews Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kemarin.

Ayah empat anak kelahiran 1962 ini pertama kali tergugah hatinya untuk membantu orang-orang yang terjerat dengan masalah gangguan mental sejak 2002. Walau tidak punya latar belakang psikologis, usahanya telah menyelamatkan banyak jiwa.

“Kita selalu mencoba melakukan pendekatan dengan mengajak bersosialisasi, membina dengan kasih sayang. Misalnya mereka yang gangguannya agresif, di mana motorik masih jalan, kita coba tenangkan emosinya. Tapi kalau yang pendiam dan mengajak komunikasi agak sulit, bisa kita ajak ngomong baik-baik atau stimulasi dengan musik,” jelasnya.

Jika dibiarkan menganggur atau tanpa kegiatan, kata Jamiin, penderita gangguan jiwa mudah melamun dan akan sulit sembuhnya. Uang hasil dari kerja tersebut dipakai untuk makan bersama dengan ratusan penderita gangguan jiwa yang diasuhnya.

“Alhamdulillah, ada pengidap gangguan jiwa asuhan kita yang kemudian jadi polisi, tentara, atau setidaknya bisa bekerja di luar jadi kuli bangunan atau berkebun, kemudian menikah dan punya anak,” tandas Jamiin, yang hadir dalam acara “Malam Anugerah Pahlawan untuk Indonesia“ (PUI) oleh MNCTV.

Sosok yang telah beberapa kali mendapatkan penghargaan pahlawan sosial, termasuk penghargaan Pahlawan untuk Indonesia kategori kesehatan pada Hari Pahlawan 10 November ini, berpesan agar masyarakat tidak lagi memberi stereotipe buruk pada penandang gangguan jiwa, terlebih sampai mengurung mereka dalam pasungan.

“Saya ingin semua masyarakat jangan mengucilkan mereka, karena mereka juga manusia. Jangan sampai kita berpikir orang ‘sakit jiwa’ tidak bisa diperlakukan dengan baik, kita bisa memfasilitasi mereka dan mendidik mereka supaya kembali berguna dan sembuh,” pesannya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini