Tumor di Otak Bikin Gadis Ini Cepat Gemuk

Erika Kurnia, Jurnalis · Rabu 18 November 2015 13:41 WIB
https: img.okezone.com content 2015 11 18 481 1251490 tumor-di-otak-bikin-gadis-ini-cepat-gemuk-5oJWtoGw03.jpg Tumor di otak bikin gemuk (Foto: Dailymail)

SEORANG mahasiswi mengalami pertambahan berat badan sekira 50 kg dalam dua tahun, sebelum akhirnya mengalami penurunan berat badan drastis. Setelah diperiksa dokter, gadis itu ditemukan mengidap tumor otak yang menyebabkan naik turunnya berat badan.

Lizzie Denison-Ward, yang sekarang berusia 20 tahun, memeriksakan dirinya ke dokter ketika mengalami pertambahan berat badan yang terlalu cepat. Dokter awalnya mengatakan hal itu karena metabolisme tubuhnya melambat dan dia harus mengadopsi diet sehat.

“Awalnya teman saya menganggap saya lebih sehat dengan tubuh yang terlihat lebih gemuk. Saya juga tidak cemas, karena tidak saya juga tidak mengalami perubahan pola makan. Tapi kemudian ibu saya mencemaskan kondisi saya sementara tubuh ini terus mengembang,” tuturnya.

Seperti dilansir dari Dailymail , tubuhnya terus bertambah berat, yaitu dari 57kg menjadi 102kg, dalam dua tahun. Meskipun makan hanya 1.000 kalori sehari, ukuran tubuhnya persis seperti ukuran tubuh aslinya yang memakai 10 lapis baju.

Setelah gejala Lizzie diteliti secara online, ia dibayar untuk menjalani pemindaian MRI yang kemudian mengungkapkan adanya tumor di otaknya. Ahli mengatakan, pertumbuhan 4mm pada kelenjar pituitarinya menyebabkan ketidakseimbangan hormon sehingga ia mudah gemuk.

Tumor menyebabkan kelenjar untuk menghasilkan banyak hormon stres yang disebut kortisol. Kondisi tersebut dikenal sebagai sindrom Cushing. Yang paling berdampak dari kondisi tersebut adalah berat badan, karena kortisol menyebabkan lemak lebih banyak disimpan di tubuh.

Hal ini juga menyebabkan kulit menipis, stretch mark, kelemahan otot atau tulang, dan penurunan libido. Seperti dalam kasus Denison-Ward, atau sekitar satu dari dari 50.000 orang, kondisi tersebut dapat berkembang karena tumor di salah satu kelenjar tubuh.

Hal ini juga dapat terjadi sebagai efek samping dari pengobatan untuk radang dan kondisi autoimun.

Pengobatan utama adalah untuk berhenti minum obat yang menyebabkan atau untuk mengangkat tumor.

Jika pilihan ini tidak tersedia, obat dapat digunakan untuk melawan efek dari tingginya kadar kortisol. Jika tidak diobati, dapat menyebabkan tekanan darah tinggi yang dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini