nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wayang Kulit Ramaikan Negeri Taco

Eti Kurnaeti, Jurnalis · Selasa 15 Desember 2015 12:11 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 12 15 406 1267812 wayang-kulit-ramaikan-negeri-taco-0IxIxRjr2a.jpg Wayang kulit ramaikan negeri taco (Foto: Okezone)

PERTUNJUKAN Wayang Kulit merupakan kesenian tradisional dan budaya asli Indonesia.Bahkan, kesenian ini dihadirkan di Meksiko.

Hal tersebut diperkuat dengan adanya pengakuan dari lembaga internasional PBB yang mengurusi masalah Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan, UNESCO, yang menetapkan bahwa pertunjukan wayang kulit sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) yang berasal dari Indonesia pada 7 November 2003.

Serunya lakon atau cerita dalam pertunjukan wayang kulit yang dimainkan oleh seorang dalang dengan diiringi musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga serta lantunan tembang indah oleh para pesinden, memikat hati para pecinta seni pertunjukan yang sangat popular di wilayah Jawa tersebut.

Kini, seni pertunjukan wayang kulit tidak hanya menyihir masyarakat di tanah air saja, tetapi juga mulai mencuri perhatian masyarakat Meksiko.

Seni pertunjukan wayang kulit Indonesia mulai diperkenalkan di Negeri Sombrero oleh komunitas pecinta kesenian dan kebudayaan Indonesia di Meksiko yang tergabung ke dalam Grup Indra Swara, pada musim semi 2014.

Indra Swara didirikan oleh seorang warga negara Indonesia yang menetap di Meksiko, Fitra Ismu Kusumo, pada 14 Desember 2002. Komunitas ini memiliki jumlah warga Meksiko yang mencintai budaya dan tradisi Indonesia.

Grup kesenian Gamelan Barudak yang merupakan bagian dari Indra Swara kemudian aktif melakukan pagelaran wayang kulit di sejumlah wilayah di Meksiko hingga saat ini.

Menurut Fitra Ismu, sejak pertama kali diperkenalkan, respon masyarakat Meksiko terhadap seni wayang kulit Indonesia sangat positif. Bahkan pada tahun 2014 lalu saat seni wayang kulit ditampilkan di Museo Nacional de las Culturas atau Museum Nasional, diluar dugaan jumlah penonton membludak hingga melebihi kapasitas.

Akibatnya ratusan penonton lainnya terpaksa tidak bisa masuk ke dalam museum untuk menyaksikan pertunjukan seni wayang kulit karena terbatasnya kapasitas tempat duduk.

Pada tahun 2015 ini pertunjukan wayang kulit Indonesia kembali digelar di Museo Nacional de las Culturas, sebagai bagian dari rangkaian peringatan ulang tahun Museum Nasional Meksiko yang ke-50.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Meksiko (SEP), Dewan Kebudayaan dan Seni Nasional Meksiko (Conaculta), Institut Nasional Antropologi dan Sejarah (INAH) serta Museum Nasional/Museo Nacional de las Culturas (MNC).

Salah satu yang unik dalam pertunjukan wayang kali ini adalah digunakannya penerjemah untuk bahasa isyarat. Diakui Fitra, hal tersebut merupakan pengalaman pertama bagi Indra Swara dan Gamelan Barudak, dimana sebuah pertunjukan wayang yang ditampilkan dilengkapi dengan seorang penerjemah untuk penonton berkebutuhan khusus atau difabel, dalam hal ini tuna rungu dan tuna wicara, di samping layar.

Pria kelahiran Solo ini menambahkan bahwa pihak Dewan Kebudayaan dan Seni Nasional Meksiko, CONACULTA, memang mengeluarkan kebijakan inklusif terhadap kaum difabel yang mewajibkan pihak museum untuk menyediakan seorang penerjemah bagi orang-orang berkebutuhan khusus tersebut.

“Sungguh unik dan merupakan pengalaman pertama, melihat pertunjukan wayang di terjemahkan secara simultan oleh penerjemah bahasa isyarat,” ungkapnya.

Untuk memeriahkan rangkaian HUT Museum Nasional Meksiko kali ini, pihak Grup Gamelan Barudak memilih dongeng Bawang Merah Bawang Putih dan Timun Mas yang diadaptasi ke dalam Bahasa Spanyol menjadi La Bufanda Roja dan El Pepino Dorado sebagai lakon wayang kulit yang dipentaskan. Keseluruhan cerita disampaikan sang dalang dalam Bahasa Spanyol yang merupakan bahasa nasional di negeri yang terkenal dengan musik Mariachi-nya itu.

Selain tertarik dengan seni pertunjukannya, masyarakat Meksiko juga sangat antusias dengan alat musik gamelan yang dimainkan, serta tertarik untuk melihat dari dekat mengenai keindahan wayang-wayang kulit asli Indonesia yang ditampilkan.

(jjs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini