Minum Pil KB Picu Perkembangan Janin?

Erika Kurnia, Jurnalis · Minggu 17 Januari 2016 13:00 WIB
https: img.okezone.com content 2016 01 16 481 1289718 minum-pil-kb-picu-perkembangan-janin-qi0ABpzN4G.jpg Ilustrasi pil KB (Foto: Livescience)

MINUM pil KB sering memicu kekhawatiran, seperti apakah bila KB gagal dan kehamilan terjadi dapat berdampak pada perkembangan janin? Penelitian terbaru mengonfirmasi bahwa penggunaan pil KB sebelum atau saat kehamilan sudah terjadi tidak memicu kecacatan pada kandungan.

Penelitian besar yang melibatkan data 800.000 kelahiran di Denmark, telah membandingkan wanita yang melahirkan bayi dengan cacat lahir dan yang tidak terkait penggunaan pil KB. Dari data tersebut, diketahui 68 persen wanita mengonsumsi pil KB dan berhenti tiga bulan sebelum diketahui hamil, 21 persen tidak menggunakan pil KB, 8 persen wanita berhenti mengonsumsi pil KB kurang dari tiga bulan sebelum ia hamil, dan 1 persen mengonsumsi pil setelah hamil.

"Total, ada 2,5 persen bayi yang lahir cacat tapi jumlah itu sama saja jumlahnya baik pada ibu yang menggunakan pil KB atau tidak. Temuan utama kami yakni tidak ada peningkatan risiko memiliki anak lahir cacat akibat penggunaan kontrasepsi oral," kata Salah satu peneliti, Brittany Charlton, ScD, kepada Fit Pregnancy, yang dikutp dari Theguardian, Minggu (17/1/2016).

Pil KB yang mengandung hormon seks, menurut Charlton, menimbulkan kekhawatiran dapat membahayakan perkembangan janin. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tiga bulan setelah berhenti mengonsumsi pil KB, terdapat pengaruh pada kadar vitamin A dan folat yang terkait dengan risiko bayi lahir cacat. Beberapa studi sebelumnya juga ada yang mengaitkan konsumsi pil KB dengan cacat lahir seperti bibir sumbing, cacat di bagian tubuh tertentu, dan gastoschisis (munculnya lubang di perut).

Namun, dalam studi kali ini, Charlton menekankan bahwa kelompok wanita yang diamati amat besar sehingga kondisi cacat lahir bisa dianalisis sekaligus. Selain itu, dalam studi ini, Charlton dan timnya berpatokan pada catatan medis dan resep yang didapat para wanita, sehingga bisa meyakinkan bahwa wanita yang hamil setelah berhenti atau bahkan ketika menggunakan kontrasepsi oral tidak perlu mengkhawatirkan anaknya akan lahir cacat. Bagaimanapun, konsultasi dengan tenaga medis terkait dengan perencanaan kehamilan ke depannya tetap diperlukan.

"Kami tidak mensurvei secara personal para wanita sedangkan kita tahu wanita bisa saja menggunakan pil KB tidak sesuai aturan. Jika memang Anda ingin merencanakan kehamilan, tidak ada salahnya berdiskusi dulu dengan dokter. Penyedia layanan kesehatan bisa saja masih merekomendasikan penghentian kontrasepsi oral beberapa bulan sebelum merencanakan kehamilan untuk memastikan anak tidak terpapar hormon seks dari luar," pesan Charlton.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini