nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Epilepsi Tidak Selalu Ditandai dengan Kejang

Erika Kurnia, Jurnalis · Kamis 24 Maret 2016 20:07 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 03 24 481 1345114 epilepsi-tidak-selalu-ditandai-dengan-kejang-j7nBfkFS1U.jpg Serangan epilepsi (Foto: Mamiverse)

EPILEPSI sering disebut penyakit ayan yang digambarkan dengan serangan kejang seluruh tubuh dan busa keluar dari mulut yang tampak mengerikan. Padahal, serangan kejang epilepsi tidak selalu seperti itu.

Dokter spesialis saraf Irawaty Hawari, yang juga Ketua Yayasan Epilepsi Indonesia (YEI), mengatakan bahwa serangan atau bangkitan epilepsi bisa bermanifestasi dalam berbagai bentuk tergantung bagian otak yang terkena. Dengan demikian, serangan bisa bersifat fokal atau parsial dan yang bersifat umum.

"Kalau serangan umum, bentuknya bisa kejang-kejang seluruh tubuh dan sampai hilang kesadaran. Sementara, kalau serangan parsial atau fokal hanya menyerang beberapa organ saja sehingga mengubah tingkah laku, yang bisa tanpa kehilangan kesadaran. Sebelum muncul biasanya akan muncul 'aura'," kata dr Irawati dalam seminar media Epilepsi, di Jakarta, baru-baru ini.

Namun demikian, serangan berupa kejang belum berarti epilepsi. Namun, bila serangan kejang yang serupa terjadi lebih dari dua kali, itu bisa dicurigai sebagai epilepsi. Untuk lebih memastikannya lagi, pemeriksaan EEG atau aktivitas otak dengan menunggu serangan kembali terjadi bisa dilakukan untuk diagnosa.

"Kalau saya, saat serangan terjadi, tubuh saya secara tidak sadar punya kekuatan lebih untuk bergerak dan mengambil sesuatu. Suatu hari saya pernah kaget melihat mouse komputer kantor saya bawa pulang. Pernah juga saya temukan sandal kantor masuk ke tas saya. Ternyata saya tak sadar melakukan itu semua saat serangan," kata Azharianto Latief Baroto, MM, yang masih sering mengalami serangan dua sampai tiga kali per bulan.

Sementara itu, praktisi psikologi yang juga mendapat epilepsi sejak kecil, Aska Primadi, mengalami gejala parsial yang membuat tubuh sebelah kanannya kejang. Berbeda dengan Azharianto, Aska biasanya bisa merasakan 'aura' berupa perasaan takut sebelum kejang terjadi. Namun akhirnya ia menjalani operasi otak kiri yang bermasalah untuk mengurangi beban akibat kondisinya.

"Saya beruntung karena sebelum serangan bisa merasakan aura. Jadi ketika aura itu datang, saya akan mendorong pikiran saya lebih positif agar serangan bisa dicegah. Selain faktor itu, obat-obatan juga penting untuk membantu mencegah kejang terjadi," tambahnya.

(vin)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini