nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menguak Keunikan Isi Goa Batu Cermin di Labuan Bajo

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Jum'at 20 Mei 2016 10:50 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 05 20 406 1393310 menguak-keunikan-isi-goa-batu-cermin-di-labuan-bajo-TyZxgb9nX4.jpg Uniknya Goa Batu Cermin di Labuan Bajo (Foto: Joseph Kowel/Okezone)

LABUAN Bajo mungkin terkenal dengan wisata baharinya. Ternyata tidak hanya itu, wisata alam seperti goa juga menarik untuk dikunjungi.

Tim Okezone berkesempatan untuk menyambangi Goa Batu Cermin yang terletak di Wae Sambi, Labuan Bajo. Lokasi goa ini berjarak sekira 20 menit dari Bandara Komodo menggunakan mobil.

Letaknya yang cukup jauh membuat Goa Batu Cermin belum ramai dikunjungi wisatawan. Meski demikian, selalu ada wisatawan yang berkunjung setiap hari, baik domestik maupun mancanegara.

Didampingi pemandu wisata Jon Aurison, kami dipandu memasuki mulut goa yang berjarak sekira 300 meter dari pintu masuk objek wisata ini. Jon menjelaskan, asal mula goa ini ditemukan hingga dibuka menjadi objek wisata.

Goa ini ditemukan oleh pastor sekaligus arkeolog dari Belanda bernama Theodore Verhoven pada 1951. Saat itu, Verhoven menemukan tanda-tanda bahwa goa ini berasal dari dasar lautan jutaan tahun yang lalu.

Hal ini dikuatkan dengan ditemukannya fosil yang menyerupai kura-kura, ikan dan batu karang yang menempel di dinding-dinding goa. Jon mengatakan, sebenarnya goa ini diketahui oleh warga setempat sebelum Verhoven mengunjungi goa. Tetapi warga setempat belum berani mengeksplorasi goa yang cukup gelap ini.

Goa Batu Cermin memiliki ketinggian sekira 75 meter. Disebut Goa Batu Cermin karena ada sebuah lubang di bagian atas yang menjadi tempat masuknya sinar matahari dalam goa. Sinar matahari yang masuk dalam goa, kemudian mengenai permukaan air yang memantul di dinding batu dan merefleksikan bayangan air layaknya cermin.

Sebelum memasuki goa ini, Jon mengingatkan kami untuk memakai helm sebagai pelindung kepala dari stalagtit yang cukup panjang. Ia juga memberikan senter kecil untuk menerangi jalan kami selama menyusuri goa yang gelap.

"Menyusuri goa ini harus menunduk sekira 40 meter, karena ada terowongan yang sangat sempit," ujar Jon.

Selama berada di terowongan yang gelap, Jon menunjukkan batu kristal yang cukup berkilau.

Kemudian di ruang paling lebar, ia menunjukkan fosil kura-kura, serta patung berwarna putih dan tinggi yang dipercaya penduduk setempat sebagai Patung Bunda Maria.

Beralih ke bagian lain, kami menyusuri goa dengan menanjak. Sampailah kami di bawah lubang yang menjadi tempat masuknya sinar matahari.

"Waktu paling pas ke sini sebenarnya saat pukul 13.00. Tetapi tidak setiap hari, tergantung pada posisi matahari tepat di atas lubang atau tidak," ujar Jon.

Ia menambahkan, saat musim hujan terkadang ada air yang masuk dalam terowongan, sehingga cahaya matahari dapat dipantulkan ke dinding dan menunjukkan pesona khas Goa Batu Cermin.

Kemudian kami bergeser menuju pintu keluar. Di sana, masih ada hal yang menarik, yaitu sebuah dinding yang diyakini memiliki fosil ikan. Lalu ada juga sebuah batu dengan tiga lubang yang menyerupai mata dan mulut, seperti sebuah tengkorak.

Untuk masuk ke Goa Batu Cermin, pengunjung harus membayar tiket seharga Rp10 ribu. Jangan lupa untuk membawa perbekalan, khususnya minuman untuk melepas dahaga setelah lelah menyusuri goa ini.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini