nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Iklan Bahaya Rokok Kini Tekankan Dampak pada Anak

Erika Kurnia, Jurnalis · Jum'at 27 Mei 2016 15:23 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 05 27 481 1399368 iklan-bahaya-rokok-kini-tekankan-dampak-pada-anak-a7gixqa7dv.jpg Menteri Kesehatan ubah iklan bahaya rokok (Foto: Erika/Okezone)

SUDAH tiga tahun Kementerian Kesehatan RI mengampanyekan bahaya merokok melalui iklan layanan masyarakat (ILM). Bila biasanya dua tahun sebelumnya korban rokok baik aktif maupun aktif yang menjadi sorotan, kini anak-anak yang menderita dampak sosial akibat rokok yang ditunjukkan.

ILM bertema "Suara Hati Anak" ini sejalan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2016 dengan tema nasional "Suarakan Kebenaran". Tema tersebut menurut Menteri Kesehatan RI, Prof Dr dr Nila Farid Moeloek, SpMK, penting diangkat untuk menyelamatkan generasi muda dari bahaya rokok yang semakin menjadi.

“Selamatkan generasi muda kita. Kita telah banyak melihat fakta bahwa angka perokok pemula terus meningkat. Ini tidak baik. Oleh karena itu, kita harus selamatkan generasi muda kita,” ujar Menkes Nila dalam acara peluncuran ILM antirokok “Suara Hati Anak”, di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (27/5/2016).

Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, dr Anung Sugihantono, MKes, menambahkan bahwa ILM keempat yang pernah dibuat akan menampilkan sisi yang berbeda dari bahaya merokok. Dengan menampilkan dampak rokok pada anak, diharapkan ini dapat menjadi bahan untuk saling mengingatkan.

"Kalau sebelumnya lebih menampilkan korban, tahun ini kita menampilkan dampak sosial akibat merokok, khususnya bagi anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa. Upaya pencegahan khusus rokok ini kita lakukan agar semua bisa saling mengingatkan dan menggiatkan untuk mencegah generasi muda dari ancaman dan bahaya merokok,” jelasnya.

ILM berdurasi 30 detik ini menampilkan sesosok ayah yang menderita karena penyakit terkait konsumsi tembakau. Sang putri yang bernarasi menyampaikan bagaimana ia harus putus sekolah demi membantu keluarganya untuk membiayai kebutuhan keluarga dan ayahnya yang sakit.

Kisah tersebut ditemukan oleh salah seorang penggiat antirokok, yaitu Fuad Baradja. Kisah tersebut adalah nyata dari keluarga seorang nelayan Muara Angke bernama Sam. Sam adalah bapak yang biasa merokok 4,5 bungkus sehari, meski penghasilannya hanya Rp 50 ribu.

Dengan penghasilan yang sedikit dan lebih banyak terkuras untuk rokok, sang kepala keluarga lebih memilih anak-anaknya untuk putus sekolah. ILM ini akan segera ditayangkan di enam stasiun TV nasional selama empat minggu.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini