Baju Koko pun bisa Sekelas Jersey Barcelona

Agregasi Pikiran Rakyat, Jurnalis · Jum'at 01 Juli 2016 10:50 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 01 194 1430260 baju-koko-pun-bisa-sekelas-jersey-barcelona-on4B0h3yiS.jpg foto: PR Online

BANDUNG – Umat Islam di Indonesia sejak lama sudah menggunakan baju koko untuk beribadah. Perkembangan bahan dan motif baju koko pun sangat pesat. Jika sebelumnya baju koko identik dengan bahan katun dan berwarna putih, kini baju koko terbuat dari banyak jenis kain dan motif.

Ada bahan kain chiffon, brokat, spandex, wol dan tenun. Dalam beberapa tahun terakhir, kain polyester menjadi inovasi terbaru untuk diterapkan sebagai bahan pembuatan baju koko. Salah satu pengembangan dari kain polyester adalah polyester dry fit yang lazim digunakan pada jersey olah raga.

Salah satu pelopor dari baju koko berbahan polyester dry fit di Indonesia adalah SAB Indo Industries di Cimahi, Jawa Barat. Industri yang memproduksi jersey olah raga dengan merek dagang Speed itu membuat baju koko berbahan polyester dry fit kali pertama tahun 2013 dengan label Speed Muslim.

Menurut pemilik SAB Indo Industries, Andre Firmansyah, ide baju koko berawal dari keinginan memberi kenang-kenangan pada bulan Ramadan untuk para pekerja di perusahaannya dan tidak ada keinginan memproduksi secara massal.

Akan tetapi pada waktu bersamaan, foto-foto baju koko dari bahan jersey itu diunggah ke media sosial dan mendapat tanggapan positif. Permintaan masyarakat pun membeludak sehingga ia memutuskan untuk memproduksi secara massal.

Bahan polyester dry fit dipilih karena lebih menyerap keringat sehingga tetap nyaman dipakai ketika melakukan aktivitas fisik yang membutuhkan banyak gerak. Berbeda dengan bahan polyester biasa yang setelah beberapa kali pakai sudah tidak menyerap keringat.

Saat pertama kali diproduksi, baju koko Speed Muslim tidak langsung dipasarkan ke masyarakat. Hal itu dilakukan karena umumnya masyarakat belum mengetahui ada baju koko berbahan polyester dry fit. Mereka masih menganggap baju koko terbuat dari bahan katun atau yang lain seperti wol.

“Agak sulit memang kalau kami coba tawarkan langsung ke publik. Saya tawarkan satu-satu atau parsial”, ujar Andre saat ditemui di kawasan Cimahi Utara, Kota Cimahi.

Untuk mengatasi kesulitan itu, SAB Indo Industries mencoba menawarkan Speed Muslim lewat jalur komunitas. Seperti komunitas pecinta sepeda dan komunitas pelari. Desain baju koko disesuaikan dengan komunitas pemesan seperti menambahkan ornamen yang mencitrakan identitas komunitas tertentu.

SAB Indo Industries memanfaatkan keberadaan eksistensi komunitas untuk menyebarluaskan produknya. Anggota dari komunitas tersebut kemudian sering menggunakan baju koko Speed Muslim saat beribadah di musala dan masjid.

“Bahkan pelari saja kalau salat Jumat kadang ingin tetap mengenakan baju yang setidaknya mencerminkan identitasnya sebagai pelari seperti gambar orang berlari atau hanya kaki dan sepatu dan kami manfaatkan peluang pasar itu”, tuturnya.

Pesanan baju koko yang semakin meningkat membuat SAB Indo Industries melebarkan sayap ke pasaran umum dengan meluncurkan desain yang lebih kasual untuk masyarakat pada tahun ketiga sehingga tidak hanya menayasar komunitas.

Tujuannya, dengan desain yang lebih kekinian, baju koko ini bukan hanya bisa dipakai untuk beribadah tetapi juga bisa dipakai ketika bersantai atau bepergian. Hal itu dilakukan karena masyarakat kini sudah mengetahui keberadaan baju koko berbahan polyester dry fit.

Ke depannya, Andre menginginkan baju koko inovatif tersebut digunakan oleh jamaah umroh karena ada kecocokan antara karakteristik bahan dengan tipe ibadah yang membutuhkan banyak gerak dan mirip dengan berolah raga.

Pada tahun pertama produksi, model dan motif baju koko itu memiliki kemiripan dengan jersey olah raga dengan sedikit perbedaan yaitu kancing di atas dan bawah sebagai ciri khas baju koko.

Baru pada tahun kedua, modelnya berkembang dengan desain mirip kemeja dengan tambahan kerah Serta satu kantong di dada kiri.

Pada tahun ketiga, modelnya kian berkembang dengan desain yang lebih kasual dan umum seperti corak kotak-kotak, lingkaran, bahkan batik dan tidak identik dengan olah raga.

Baju koko itu dibanderol pada kisaran harga Rp 200 ribu Rp 300 ribu rupiah per potong dan pembeli boleh mengajukan pesanan dengan rancangan desain sendiri. “Kami menerima pesanan khusus sesuai selera pembeli,” kata Andre.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini