EKSKLUSIF: Popularitas KB Merosot, Begini Kiat BKKBN Mengatasinya

Afiza Nurmuseriah, Jurnalis · Senin 25 Juli 2016 19:02 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 25 196 1446416 popularitas-kb-merosot-begini-kiat-bkkbn-mengatasinya-rnwSKMgs9A.jpg Kepala BKKBN, Chandra Surapaty (Foto: Sabki/Okezone)

KEMBALINYA pemahaman banyak anak banyak rezeki kini kembali merebak di masyarakat. Seolah menjadi tren, pernikahan dini pun semakin meningkat, terutama di daerah-daerah kecil yang notabene belum terlalu banyak mengetahui mengenai keluarga berencana.

Seperti data yang dimiliki Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), selama satu dasawarsa ini penurunan angka kelahiran mengalami stagnasi pada angka 2,6 anak per wanita. Hal ini disebabkan oleh pemakaian kontrasepsi yang tidak mengalami kenaikan secara signifikan sebesar 0.5 persen dari 57,4 persen menjadi 57,9 persen (cara modern) dan 61,4 persen menjadi 61,9 persen (semua cara).

Sebagai kepala BKKBN, Surya Chandra Surapaty menganggap ini tantangan bagi dirinya untuk terus menaikkan kualitas penduduk.

“Sekarang kembali lagi seperti zaman dulu, orang tidak banyak mengenal KB, justru kembali lagi itu mempunyai banyak anak banyak rezeki, ini merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Memang setiap anak membawa rezekinya tersendiri ketika hidup, namun kita juga harus memikirkan bagaimana kehidupannya kelak, itu kewajiban lho bagi orangtua untuk mendidik, memberi makan agar anak sehat empat dimensi kehidupannya. Sehat secara fisik, mental, sosial dan emosionalnya. Ini tentu memerlukan waktu dan biaya,” jelas Surya kepada Okezone, belum lama ini, di Jakarta. 

Untuk itu, di bawah kepemimpinannya Surya menginginkan internal staf dari BKKBN harus menjadi contoh penduduk yang berkualitas untuk benar-benar membangun manusia Indonesia.

“Yang terlibat dalam BKKBN ini harus jadi manusia duluan, menjadi pelopor revolusi mental agar karakter masyarakat terbentuk. Jadi, kader-kadernya juga harus berkualitas.”

Kemudian menurutnya, ada tiga elemen kependudukan yang benar-benar harus dibenahi. Pertama, kuantitas penduduk yang harus dikendalikan, di sini yang dimaksudkan dari variabel kelahiran. Kedua, kualitas penduduk juga ditingkatkan karena penduduk adalah subjek pembangunan. Lalu yang ketiga, mobilitas penduduk harus diarahkan secara vertikal yakni secara sosial dan horizontal yakni secara geografis.

(vin)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini