EKSKLUSIF: Masalah Kependudukan, Ini yang Dikhawatirkan Kepala BKKBN

Afiza Nurmuseriah, Jurnalis · Selasa 26 Juli 2016 18:22 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 26 196 1447357 eksklusif-masalah-kependudukan-ini-yang-dikhawatirkan-kepala-bkkbn-Ga6d807cft.jpg Kepala BKKBN, Chandra Surapaty (Foto: Sabki/Okezone)

PEMERINTAH telah lama menggalakkan program Keluarga Berencana (KB) untuk menekan jumlah populasi penduduk sejak dulu kala. Namun, selama beberapa tahun terakhir ledakan jumlah penduduk menjadi tak terkendali yang berdampak pada berbagai macam tragedi di masyarakat seperti perceraian, pelecehan seksual dan masih banyak lagi.

Krisis ini tentu saja menjadi salah satu perhatian Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Surya Chandra Surapaty. Sebagai kepala badan yang menangani masalah-masalah kependudukan tersebut, Surya mencoba merunutkan apa yang menjadi penyebab meledaknya jumlah penduduk di masa modern kini.

“Sebabnya tak lain karena banyak yang menikah, main menikah saja tak ada rencana matang, punya anak lebih dari dua, rentan waktu melahirkan dekat, dan pernikahan dini sehingga mereka tidak bisa fokus merawat anak. Berkeluarga harus dengan perencanaan bukan karena bencana,” tandas Surya kepada Okezone dalam wawancara khusus beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Surya mengatakan bahwa tradisi dan kepercayaan di dalam masyarakat juga cukup punya kendali terhadap gagalnya program KB dan meledaknya jumlah penduduk. Kecenderungan yang ada di masyarakat Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pedalaman adalah menikahi anak-anak gadis di usia muda dan membiarkan mereka memiliki banyak anak agar mendapatkan banyak rejeki.

Untuk mencegah hal tersebut terus berlanjut, Surya dan tim BKKBN telah memberikan penyuluhan dan membuat berbagai proyek untuk mengubah mindset masyarakat. Ia ingin orangtua tak menikahkan anaknya di usia belia, melainkan ketika mereka sudah menginjak usia matang.

“Di daerah memang masih banyak yang menikah di usia 18 tahun, padahal idealnya untuk wanita itu 21 tahun dan pria 25 tahun. Untuk itu dari BKKBN sendiri kami gencar memperkenalkan pakai kontrasepsi jika ada yang ingin menikah di usia belia agar menunda kehamilan, ini kami lakukan dengan proyek Kampung KB yang kini sudah tersebar dibanyak kabupaten di seluruh Indonesia,” lanjut Surya.

Terakhir, Surya memaparkan dampak negatif dari pernikahan muda yang masih marak tersebut. Pria kelahiran Palembang ini mengatakan, jika selain menyebabkan ledakan jumlah penduduk, pernikahan dini juga cenderung membuat orangtua kurang memiliki rasa tanggung jawab pada anak-anak mereka.

“Kebanyakan pasangan muda baik dari ibu atau ayahnya cenderung tidak mau menjalankan program ASI eksklusif, padahal sesungguhnya yang bagus adalah selama dua tahun,” pungkas Surya.

(vin)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini