nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bipolar pada Ibu Hamil

Agregasi Mommiesdaily.com, Jurnalis · Jum'at 29 Juli 2016 13:27 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 07 29 481 1449976 bipolar-pada-ibu-hamil-LUsjeYAl5H.jpg Ilustrasi

Pada dasarnya, perempuan dengan bipolar tetap bisa hamil, dengan syarat sebelum terjadinya kehamilan atau ketika merencanakan kehamilan ia sudah terlebih dahulu konsultasi kepada psikiater yang sudah terbiasa menanganinya.

Menurut Dr. dr Nurmiati Amir, Sp. KJ(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Rumah Sakit Ciptomangunkusumo, pasien bipolar yang sudah menikah sebaiknya jujur jika mereka hendak merencanakan kehamilan. Karena akan ada intervensi dari dokter, berupa pergantian obat-obatan yang terlalu berisiko terhadap kehamilan.

“Dokter akan memilihkan obat yang lebih aman sebagai pengganti semua obat yang sifatnya stabilator mood, yang bisa jadi berisiko kepada kehamilannya, jadi bisa lahir cacat, yang ringan contohnya bibir sumbing. Dan yang serius misalnya, kelainan katup jantung. Atau sususan syaraf belakang, kalau dia menggunakan obat-obat yang termasuk stabilator mood selama kehamilan, terutama pada trimester pertama. Karena organ-organ terbentuk pada trimester pertama,” kata dia, seperti dikutip dari Mommiesdaily.

Situasi pasien bipolar yang menjalani kehamilan ini ibarat menghadapi buah si malakama. Nurmiati mengakui, jika diobati akan berisiko terhadap perkembangan janin, sementara jika tidak diobati si ibu berpotensi mengalami depresi.

Akibatnya bisa saja ia tidak menjalankan kebiasaan-kebiasan calon ibu yang seharusnya dilakukan, misalnya rutin mengecek kehamilan, mungkin saja tidak makan, melukai diri bahkan bunuh diri.

“Kedua sikon ini sama beratnya, di situ dokter akan menimbang atau mengukur risiko-risiko yang akan dihadapi ibu hamil. Artinya risiko dan manfaat dari obat-obatan yang akan diberikan benar-benar dikaji,” ujarnya.

Meski begitu, Nurmiati menambahkan, ada kasus perempuan dengan bipolar yang menjalani kehamilan dengan lancer dan bayi lahir dengan selamat.

Sebagai informasi tambahan, setelah melahirkan, ada situasi dimana sang ibu juga harus waspada dengan baby blues syndrome. Nah, kondisi emosi yang fluktuatif ini ternyata dapat memicu post partum depression, yang berujung memicu bipolar pada si ibu, meski pada awalnya kondisi ibu normal, artinya sama sekali tidak ada gangguan bipolar.  

Pada kondisi pasien yang seperti ini menurut Nurmiati, akan tetap diberikan obat. Tapi, mengingat sang ibu juga akan menyusui, maka ada teknik tertentu yang akan diberlakukan, agar sang ibu bisa tetap menyusui si kecil.

(fds)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini