Mustika Rasa, Warisan Soekarno Menjaga Politik Pangan Tanah Air

Santi Andriani-Dinno Baskoro, Jurnalis · Sabtu 20 Agustus 2016 07:10 WIB
https: img.okezone.com content 2016 08 19 298 1468429 mustika-rasa-warisan-soekarno-menjaga-politik-pangan-tanah-air-UpxLRWeVAP.jpg Mustika Rasa, cara Soekarno menjaga politik pangan di Tanah Air (Foto: Shantiserad)

PERNAH dengar Mustika Rasa? Buku masak warisan Presiden RI pertama itu belum lama ini kembali diterbitkan. Perlu diketahui, buku masak ini tak hanya bentuk pelestarian kuliner Nusantara, melainkan sebagai cerminan dari politik pangan di Tanah Air.

Kuliner merupakan salah satu tanda identitas bangsa. Apalagi di Indonesia yang kaya akan tradisi dan budaya, kuliner khasnya wajib didokumentasikan agar tidak diakui oleh bangsa atau negara lain.

"Mustikarasa menunjukan bahwa makanan itu urusan yang serius. Sebab itu negara harus serius memperhatikannya. Kalau tidak maka bukan saja merugi bahkan negara bisa terancam bahaya," kata JJ Rizal, sejarawan dan pemerhati tradisi dan budaya Tanah Air kepada Okezone melalui pesan elektronik.

Karena itu, di dalam buku masak Mustikarasa tidak sekadar berisi kumpulan resep masakan Nusantara. Tetapi kata dia, menjadi simol politik pangan yang diwariskan oleh Alm. Ir. Soekarno.

Tidak aneh jika membaca Mustikarasa dan terdapat konten yang hanya berisi 1.600 resep tradisional. Buku ini memiliki budaya dan tradisi lokal, seperti budaya dapur masyarakat sampai makanan yang kini samar bahkan lenyap ditelan zaman.

Ulasan profesi yang berkaitan dengan makanan dalam arti luas juga ada dalam buku Mustikarasa. Hal ini menjadi penanda bahwa kuliner memang perlu diikutsertakan secara aktif dalam pembangunan politik pangan Tanah Air.

"Makanya mungkin tidak heran jika Bung Karno menamakan bukunya sebagai warisan. Menilik dari arti kara warisan itu sendiri adalah sesuatu yang penting bagi generasi selanjutnya," tutup sejarawan muda tersebut.

Buku Mustikarasa Warisan Sukarno, pertama kali diterbitkan pada 1967. Pada 1964, Bung Karno meminta istrinya, Hartini, mengumpulkan bahan-bahan untuk buku tersebut. Dari pamong praja tiap desa, ahli kuliner, sampai ahli gizi dikumpulkan untukĀ  membantu merumuskan bahan-bahan yang dibutukan untuk membuat buku tersebut. Namun karena pada 1965 terjadi Gerakan G-30 S PKI, maka buku itu baru diterbitkan pada 1967.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini