nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hormon Ini Dipercaya sebagai Obat Telinga Berdengung

Maria Amanda Inkiriwang, Jurnalis · Senin 26 September 2016 14:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 09 26 481 1498648 hormon-ini-dipercaya-sebagai-obat-telinga-berdengung-8B7PBG64k7.jpg Ilustrasi (Foto: Thehealthsite)

OKSITOSIN biasanya muncul ketika seseorang dideru rasa bahagia. Hormon yang dijuluki sebagai hormon cinta ini dapat meringankan telinga berdengung. Kondisi ini dikenal sebagai tinnitius.

Pasien yang mengalami tinnitus biasanya mendengar suara seperti berdengung atau berdesis, meski tak ada kebisingan di sekitarnya. Para peneliti menyebutkan, biasanya penderita tinnitus mendapatkan kelegaan dengan menyemprotkan hormon oksitosin di dalam hidungnya.

"Oksitosin memicu otak dan telinga memberikan kelegaan pada penderita tinnitus. Metode ini dapat memberikan pengobatan segera pada penderita tinnitus," ujar Andreia Azevedo dari Universidade Federal de Sao Paulo di Brazil.

Dalam sebuah studi baru, peneliti melibatkan 17 pasien tinnitus dengan rata-rata usia 63 tahun. Mereka mendapatkan pengobatan penyemprotan oksitosin dan plasebo di kedua hidung mereka. Para relawan diminta untuk memberikan opini, 30 menit setelah melakukan pengobatan. Mereka juga diminta memberi laporan soal kondisi tinnitus mereka setelah 24 jam kemudian.

Hasil menunjukkan, mereka merasa lebih lega saat mendapatkan pengobatan hormon oksitosin, ketimbang mendapatkan plasebo. Peneliti menilai bahwa pengobatan dengan oksitosin jauh lebih ampuh bagi para pasien tinnitus.

Meski terbilang ampuh, pengobatan ini memiliki efek samping yang serius, seperti detak jantung yang tak beraturan, tekanan darah rendah atau tinggi. alergi, kesulitan bernapas, mual, dan muntah.

Melihat efek samping tersebut, Darius Kohan, Kepala Otologi dari Rumah Sakit THT Manhattan di New York, mengatakan bahwa pengobatan tinnitus tidak harus dimulai dengan penyemprotan hormon oksitosin. Para peneliti masih melakukan penelitian mengenai dosis pengobatan ini. Demikian dikutip dari laman Thehealthsite, Senin (26/9/2016).

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini