Jangan Jalani Operasi Pengangkatan Rahim jika Tak Miliki Gen Angelina Jolie

Erika Kurnia, Jurnalis · Senin 03 Oktober 2016 16:33 WIB
https: img.okezone.com content 2016 10 03 481 1504907 jangan-jalani-operasi-pengangkatan-rahim-jika-tak-miliki-gen-angelina-jolie-YqJwcVZE2O.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PENGANGKATAN rahim setelah menopause untuk mencegah kanker di kalangan wanita yang berisiko kian menjadi tren. Tapi, para ilmuwan memperingatkan bahwa operasi pengangkatan rahim tidak boleh ditawarkan, kecuali wanita dengan gen seperti Angelina Jolie.

Prosedur ooforektomi bilateral atau tindakan pencegahan kanker ovarium, diyakini mempercepat proses penuaan. Wanita dengan mutasi gen, seperti BRCA1 yang dimiliki Angelina Jolie sangat disarankan untuk menjalani prosedur tersebut untuk mengurangi risiko kanker.

Namun, perempuan dengan risiko tinggi karena faktor-faktor, seperti riwayat keluarga, tidak disarankan. Para ahli mengatakan perempuan di bawah 46 tahun yang telah diangkat kedua ovariumnya diangkat berisiko alami sejumlah masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung, depresi, dan asma.

Dilansir dari Dailymail, Senin (3/10/2016), peneliti dari Mayo Clinic, Minnesota, mengikuti dua kelompok dengan 1.653 wanita selama sekitar 14 tahun. Kelompok-kelompok tersebut membagi antara mereka yang telah menjalani prosedur operasi dan wanita pada usia sama yang tidak.

Hasil penelitian menunjukkan perempuan di bawah 46 tahun yang menjalani prosedur pengangkatan rahim mengalami insiden 18 kondisi kronis yang lebih tinggi, kecuali kanker. Namun, prosedur operasi mengurangi risiko dalam beberapa kasus.

Para peneliti percaya bahwa hilangnya produksi estrogen dini yang disebabkan oleh operasi dapat mempengaruhi serangkaian mekanisme penuaan dalam sel. Ini kemudian membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit di beberapa sistem dan organ di seluruh tubuh.

"Studi ini memberikan bukti baru dan kuat terhadap penggunaan ooforektomi bilateral untuk pencegahan pada wanita muda. Ooforektomi bilateral tidak harus dianggap sebagai pilihan etis yang dapat diterima untuk pencegahan kanker ovarium pada sebagian wanita yang tidak membawa varian genetik berisiko tinggi,” kata peneliti utama Walter Rocca.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini