nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Fakta Ayah Bisa Menjadi Manajer yang Baik di Kantor

Agregasi Qerja.com, Jurnalis · Senin 14 November 2016 14:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 11 14 196 1540950 5-fakta-ayah-bisa-menjadi-manajer-yang-baik-di-kantor-79uQqX6VXt.jpg Ilustrasi (Foto: Flickr)

KETIKA seorang pria memiliki anak, maka dia akan belajar banyak hal baru. Ayah yang lebih sering berada di kantor mungkin tidak mendalami ilmu pengasuhan lebih baik dibandingkan seorang ibu yang selalu ada di rumah. Tetapi, ayah yang bekerja bisa lebih pandai mengatur waktu dan emosi agar bisa menikmati kebersamaan dengan sang buah hati.

Pengalaman berharga saat menjadi seorang ayah sangat penting untuk Anda yang menjadi seorang pimpinan di perusahaan. Berikut beberapa hal yang membuat seorang ayah bisa menjadi manajer yang baik di kantor, menurut Roderick Morris, seorang startup founder di blog-nya.

Menghargai waktu

Terkadang orangtua tidak sadar betapa cepat waktu berlalu. Mungkin hari ini Anda masih menimang-nimang sang buah hati, tapi beberapa tahun lagi tiba-tiba Anda sudah harus melepasnya ke kampus di luar negeri. Seorang ayah tentu tak ingin kehilangan masa-masa bahagia bersama si kecil. Ayah yang lebih sering di kantor akan mencoba memanfaatkan waktu berkualitas bersama anak. Sehingga anak akan mengingat masa-masa bahagia bersama orangtuanya saat dewasa nanti.

Seorang manajer juga harus menghargai setiap waktu yang dilalui di kantor. Mungkin Anda dan tim akan selalu terjebak dalam pekerjaan dan tertekan pada target dan tenggat yang ketat. Namun, jika Anda mengambil hikmah dari pengalaman sebagai seorang ayah, maka Anda tidak mau menyia-nyiakan waktu berharga bersama para staf. Di sela tugas yang padat, Anda bisa mengambil waktu sejenak untuk minum kopi bersama bawahan dan menanyakan tentang keadaan mereka. Hal sederhana seperti ini akan diingat oleh pegawai. Mereka juga akan belajar untuk menjadi manajer yang baik kelak.

Kesabaran

Terkadang anak-anak membuat rumah berantakan. Mereka bisa saja terbangun saat Anda sudah sangat lelah dan ingin beristirahat. Inilah saatnya Anda harus mengendalikan diri dan tetap sabar menghadapi mereka.

Seorang manajer juga harus bisa menunjukkan kesabaran di hadapan stafnya. Mungkin pegawai Anda belum bisa melakukan pekerjaan dengan sempurna. Maka Anda harus punya cara untuk bisa membimbingnya sehingga dia bisa mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya. Hal ini bukan berarti Anda harus menuntun langkahnya satu per satu. Anda mesti tahu kapan saatnya untuk mendorong pegawai berinisiatif dan bilamana waktunya mengambil tindakan.

Setelah itu, Anda bisa membuat target kemajuan yang harus dicapai oleh para pegawai. Ingatlah, kemampuan belajar setiap orang berbeda-beda. Maka Anda harus bersabar menghadapi mereka.

Memahami orang

Seorang ayah yang bekerja di kantor mungkin tidak punya waktu cukup banyak bersama anak. Sehingga ayah tidak tau kebiasaan si kecil. Namun, apa jadinya bila suatu hari sang ayah sedang berdua saja bersama sang buah hati? Mungkin saja ayah akan kebigungan menghadapi perilaku anak. Ayah tidak tahu bagaimana cara menghadapi anak yang menangis. Sebab, anak-anak belum bisa bicara untuk mengungkapkan keinginannya. Hal ini membuat ayah harus belajar agar lebih bisa mengerti anaknya.

Pelajaran ini juga penting untuk diterapkan di kantor. Mungkin suatu hari pegawai Anda mengalami masa sulit untuk mengerjakan pekerjaan. Namun, dia enggan untuk mengungkapkan maalahnya kepada siapapun. Akibatnya, tugas itu tidak selesai pada waktunya. Pada akhirnya, sebagai manajer, Anda harus tetap bertanggungjawab pada atasan yang lebih tinggi. Kemudian, Anda akan melampiaskan kemarahan kepada staf tersebut.

Padahal, Anda bisa menahan diri untuk tidak meluapkan amarah. Anda bisa memanggil staf yang bersangkutan untuk bicara dan menyelesaikan masalah bersama. Tapi, jangan lupa untuk mengingatkan bawahan bahwa ada konsekuensi dari kesalahan pegawai tersebut.

Belajar dari Kesalahan

Terkadang seorang ayah merasa gagal menjadi orangtua yang baik. Jika ayah merasa tidak bisa membuat anaknya bahagia, maka akan menyalahkan diri sendiri. Padahal, daripada Anda terus merasa menyesal, lebih baik memamami kekeliruan yang telah dperbuat dan belajar dari kesalahan.

Seorang manajer baru akan membuat banyak kesalahan. Anda akan mengacaukan beberapa proyek, membuat kekeliruan saat bertugas dan marah-marah kepada bawahan atau atasan pada waktu yang bersamaan. Tetapi, sebenarnya Anda tidak harus terus-menerus menyesali kegagalan. Anda harus bisa belajar dari kesalahan yang dibuat agar bisa menjadi manajer hebat di masa mendatang.

Disiplin

Saat anak-anak nakal, seorang ayah harus bertindak tegas untuk mendisiplinkan mereka. Anda bisa membuat aturan dan konsekuensi untuk membuat anak lebih baik. Kebanyakan orangtua percaya bahwa aturan tersebut membuat anak-anak lebih baik.

Sebagai manajer, Anda juga bisa terlibat sebagai pembuat pedoman kerja, penegak aturan bahkan melakukan tindakan dan mengambil keputusan sulit seperti memecat karyawan. Anda terpaksa melakukannya untuk kebaikan tim dan perusahaan.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini