Kuah Beulangong, Simbol Kebersamaan Masyarakat Aceh

Santi Andriani & Devi Setya Lestari, Jurnalis · Rabu 07 Desember 2016 16:34 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 07 298 1561128 kuah-beulangong-simbol-kebersamaan-masyarakat-aceh-jt1Er0LN0h.jpg Kuah beulangong kuliner Aceh (Foto: Devi/Okezone)

DILAKUKAN turun temurun tak hanya sekadar agar punya warisan kuliner untuk anak cucu. Lebih jauh, keberadaannya untuk mempertahankan sejarah dan tradisi kebersamaan masyarakat Aceh lewat sekuali kuah beulangong.

Tak hanya menyantapnya saja yang dilakukan secara bersama-sama. Namun proses pengolahan kuliner tradisional Tanah Rencong ini sedari awal telah melibatkan kerjasama dan kebersamaan yang semuanya dilakukan oleh kaum Adam. Gotong royong adalah kata kunci dalam proses pengolahan masakan berbahan dasar daging sapi mirip gulai atau kari ini.

 

(Antarafoto)

Melansir Acehtourism.info, beulangong adalah sebutan untuk kuali besi dengan ukuran besar, berdiameter satu meter. Bahan-bahan seperti bunga lawang, potongan batang pisang berbentuk bulat, daun pandan, daun kari menjadi pelengkap kelezatan, selain dari bumbu-bumbu dasar dan daging sapi itu sendiri.

Kuah beulangong adalah suguhan istimewa yang ada hanya ketika perayaan besar keagamaan seperti Maulid Nabi, atau kenduri seperti khitanan anak lelaki, pesta pernikahan, hingga tradisi sebelum turun ke sawah atau treun blang.

Memasak kuah beulangong tidak mungkin hanya satu kuali. Karena ini merupakan santapan untuk tradisi makan besar, maka memasak kuah beulangong bisa lebih dari 5 kuali dan dimasak secara bersamaan.

Sementara tidak hanya laki-laki saja yang terlibat dalam persiapan tradisi makan besar ini. Untuk pengolahan kuah beulangong memang hanya dilakukan oleh kaum adam, tapi kaum hawa juga memiliki tugas untuk menyiapkan bu kullah, yakni nasi yang dibungkus daun pisang berbentuk piramida. Ketika dibuka, bu kullah akan menebarkan aroma nasi panas dan daun pisang, bertemu menjadi aroma yang sangat khas.

 

(Antarafoto)

Mengolah kuah beulangong menjadi tanggung jawab kaum Adam

Kepada Okezone, Reza Pahlevi, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Aceh mengatakan, kuah beulangong sejak dulu memang hanya laki-laki yang boleh mengolahnya. Mulai menyiapkan bumbu dan bahan, meracik bumbu, memasak, hingga melayani.

"Sekali masak dalam jumlah banyak belanganya besar jadi sekali masak bisa kurang lebih untuk 200 porsi. Makanya butuh tenaga yang besar untuk memasaknya, belum lagi ini bahan bakarnya kayu," beber Reza.

Reza menambahkan, menu ini sudah ratusan tahun diolah dan menjadi masakan khas yang selalu ada saat perayaan hari besar keagamaan atau upacara adat. Kuah beulangong merupakan kuliner legendaris yang punya makna dan filosofi sendiri.

 

(Devi/Okezone)

"Masakan ini selalu hadir saat Maulid Nabi, hari pernikahan, Tahun Baru Islam. Di masak sekaligus dalam jumlah banyak dan hanya boleh dimasak lelaki" katanya.

Kalau ke Aceh, ini jadi satu masakan yang wajib dicicipi karena tidak tersedia setiap hari. "Pas ada festival wajib coba karena sulit menemukan tradisi ini, kalaupun mau harus datang saat hari besar. Sebenarnya ada di rumah makan tapi lebih nikmat yang dibuat langsung" pungkas Reza.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini