nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perang Barista di Lampung: Tak Hanya Sekadar Menyeduh Kopi

Tri Purna Jaya, Jurnalis · Rabu 07 Desember 2016 18:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 12 07 298 1561256 perang-barista-di-lampung-tak-hanya-sekadar-menyeduh-kopi-zxRg8ZJwwy.jpg Perang barista di Lampung (Foto:Tripurna/Okezone)

MERACIK kopi tidak hanya sekadar menyeduh dan mengaduk bubuk kopi. Ada beberapa aturan main jika ingin menikmati kopi secara sempurna.

Arie Oktora menaruh biji kopi Belalau dari kantong aluminium foil ke mesin penggiling. Tidak banyak, hanya sekitar satu sendok. Bunyi mesin penggiling berdesir pelan sekitar tiga menit.

“Ukuran bubuk kopi ini juga berpengaruh dengan hasil jadi kopi setelah diseduh. Jika semakin halus maka akan semakin mudah diekstrak rasa pahitnya,” kata Brewer (barista) Kedai Kopi Pacar Hitam ini, Rabu (7/12/2016) di Lokal Coffee Festival (Locafest) di Mal Boemi Kedaton Bandar Lampung.

Arie salah satu dari sekitar 25 orang barista yang ambil bagian dari Perang Barista di Locofest. Masing-masing barista mengadu kebolehan meracik kopi, mulai dari penggilingan sampai penyeduhan. Kopi yang digunakan adalah kopi robusta, yang merupakan jenis kopi khas Lampung.

Sambil menuang hasil seduhan kopi yang bergolak pada wadah saringan, Arie menuturkan suhu air berbanding lurus dengan tingkat kepekatan rasa pahit dari kopi, sangat berpengaruh. Semakin tinggi suhu air, rasa pahit semakin menghilang.

 

“Secara logika semakin tinggi suhu maka akan makin mudah mengekstrasi air. Jadi hati-hati, semakin tinggi suhu rasa kopi bisa semakin hilang pahitnya,” katanya.

Begitu juga dengan durasi penyeduhan. Menurut Arie, jika semakin lama kopi diseduh, rasa pahitnya menjadi menguap. “Memang, makin lama diseduh, maka kopi semakin mudah diekstrasi. Tapi rasa pahitnya itu jadi keluar, habis,” katanya.

Barista dari Kedai Kopi Bahabia, Alim memberikan tips berdasarkan pengalamannya. Alim biasanya menyeduh kopi maksimal 11 menit. Ciri seduhan kopi sudah dianggap pas, yakni warna air seduhan levelnya menjadi gelap. Untuk 150 mililiter, Alim hanya menyeduh sekitar 12,5 gram bubuk kopi.

“Suhu air sekitar 90 derajat Celcius. Sedangkan lama nyeduhnya paling lama tiga menit,” katanya.

Alim mengungkapkan, cara minum kopi yang disarankan adalah dengan tidak memakai gula. Ini agar rasa kopi benar-benar bisa tercicipi. Namun, ini menjadi problem, karena tidak semua orang suka kopi pahit.

Mengatasi hal ini, Alim ada trik tersendiri. Dia menggunakan biji kopi yang berwarna merah, yang belum terlalu masak.

“Umumnya, kopi Lampung itu kental dan pahit, khas jenis robusta. Jadi menggunakan biji kopi yang berwarna merah rasa pahit tidak terlalu, meski tidak memakai gula,” katanya.

 

Sementara itu, Kabid Bina Usaha Dinas Perkebunan Lampung, Fauri Werlian Ali mengatakan, Locafest ini digelar sehubungan dengan makin menjamurnya kedai kopi di Lampung.

“Di sini kan sedang berkembang. Namun, kebanyakan tidak menggunakan kopi robusta yang khas Lampung, kebanyakan pakai arabica,” katanya.

Padahal, kata Fauri, Lampung ini adalah penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia. Menurutnya, hal itu perlu dimaksimalkan, sekaligus mendukung hasil produksi provinsi sendiri.

“Kegiatan ini sekaligus memberikan edukasi kepada petani dan kedai bagaimana menciptakan dan meracik kopi robusta yang enak diminum. Untuk level petani, bagaiamana agar bisa menghasilkan kopi dengan grade yang terbaik,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini