Image

Mengenal Dekat Josephine M. J. Ratna, Psikologis Klinis yang Peduli Anak-Anak

Vessy Frizona, Jurnalis · Kamis 08 Desember 2016 15:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 12 08 196 1561987 mengenal-dekat-josephine-m-j-ratna-psikologis-klinis-yang-peduli-anak-anak-OuM2B61X8n.jpg Josephine (Foto: Dokumen Pribadi)

NAMA Josephine M. J. Ratna, M. Psych., memang tak semenggema kiprahnya di dunia psikologi. Hal itu dapat dimaklumi karena wanita 48 tahun ini banyak menghabiskan waktunya di Autralia hampir delapan tahun belakangan ini. Tujuannya adalah untuk memperkaya ilmu dan pengalamannya di bidang psikologi klinis dan anak-anak dan melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan Indonesia-Australia.

Tujuannya adalah untuk memperkaya ilmu dan pengalamannya di bidang psikologi klinis dan anak-anak.

Ibarat pepatah mengatakan, “Buah tak jauh jatuh dari pohonnya,” ketertarikan Josephine dengan dunia psikologi dipengaruhi oleh profesi kedua orangtuanya. Di mana ayah dan ibunya berprofesi sebagai psikiater saraf dan psikiater jiwa. Sehingga, ketertarikan untuk membantu masalah orang timbul secara alamiah. 

“Ibu dan bapak saya adalah psikiater sehingga di rumah kami terbiasa sekali membicarakan masalah orang lain. Jadi, ketertarikan saya muncul pada bidang psikologi, lagi pula saya tak ada ketertarikan memilih profesi sebagai dokter,” ujar Josephine menceritakan awal kariernya.

Pada tahun 1986, ibu dua putra ini berkuliah di Universitas Airlangga Surabaya mengambil jurusan psikologi, di mana saat itu masih di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Setelah lulus pada 1991, ia tak langsung bekerja sebagai psikolog, tetapi sebagai Account Executive di salah satu advertising agensi selama satu tahun. Namun, tetap ada hubungannya karena Josephine berhubungan dengan rumah sakit jiwa, fisik, otak dan anak-anak berkebutuhan khusus.

“Setelah itu, pada 1992 saya mendapat beasiswa dari AIDAB, pemerintahan Australia sampai jenjang master. Karena saya lebih tertarik dengan psikologi klinis akhirnya pada 1993 pindah ke clinical di Curtin Univeristy of Technology, Australia sampai tahun 1995,” sambungnya.

Sepulangnya ke Indonesia, Josephine menjadi formatur di Unika Widya Mandala, Surabaya untuk membentu Fakultas Psikologi. Ia menjadi pembantu dekan satu. Tetapi, wanita kelahiran 4 Januari 1968 ini tidak suka dengan pekerjaan yang sifatnya kebanyakan rapat, maka ia pun memilih untuk menjadi praktisi.

“Akhirnya pada 1996 saya praktik di RS Mitra Keluarga Surabaya, Surabaya Internasional. Selain itu saya juga mengajar di Universitas Surabaya dan Airlangga. Tahun 2001 saya mengundurkan diri dari Universitas, karena lebih suka menjadi praktisi dan bertemu pasien yang bermasalah,” tutur wanita yang juga lulusan University of Western Australia, Perth, Western Australia.

Hingga dalam kurun waktu 10 tahun Josephine bekerja di tujuh pekerjaan, termasuk manager Australian education Centre, memanajeri lembaga fasilitator pendidikan di Australia. Setelah 10 tahun bekerja Josephine sadar bahwa sudah saatnya ia belajar lagi untuk menambah ilmu. Akhirnya ia kembali ke Australia untuk mengambil S3 selama 4 tahun di Curtin Univeristy of Technology, Australia, sambil praktik di RS Premier Internasional Surabaya hingga sekarang.

Saat ini Josephine tercatat sebagai Sekjen Himpunan Psikolog Indonesi (HIMPSI). Bersama HIMPSI ia memiliki target agar profesi psikolog bisa bersama-sama mencetak mahasiswa yang kompeten, memenuhi apa yang dibutuhkan dan profesi ini dihargai oleh masyarakat.

“Kami terus membantu mahasiwa psikologi dengan meng-update informasi dan studi kasus. Agar mereka berkembang dan patuh terhadap kode etik yang berlaku,” cetusnya.

Ingin Mencetak Anak Indonesia Memiliki Jiwa Sehat

Saat ini konsern Josephine adalah kepada anak-anak. Ia tak ingin anak-anak mengalami stres dan masalah-masalah yang membuat pertumbuhan dan perkembangannya berantakan. Oleh sebab itu, ia memulai memperbaiki kesehatan anak-anak secara jiwa dari orangtua.

“Saat ini banyak sekali anak-anak yang stres dan bermasalah. Muaranya itu disebabkan bukan karena faktor anak itu sendiri, tetapi orangtua. Bila orangtuanya stres selama anak di kandungan maka, akan melahirkan anak-anak yang akan mengalami stres pula,” terang Josephine.

Untuk itu, ia membuat program Antenatal depression untuk ibu-ibu yang akan disahkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Di mana ibu-ibu akan ditraining tentang bagaimana menghadapi masa kehamilan dan kelahiran bayi. Sebab, masa satu bulan pertama melahirkan adalah masa krusial, itulah mengapa ada yang namanya baby blues.

“Dari hasil penelitian S3 saya, menghasilkan anak yang diasuh dalam kondisi orangtua sehat secara jiwa, akan melahirkan anak-anak yang sehat pula. Untungnya dari 27 ibu responden di Surabaya, 26 ibu-ibu dalam kondisi sehat secara jiwa,” bebernya.

Josephine menuturkan, mencari ibu-ibu yang bersedia ikut program dan secara bersamaan berada pada periode kehamilan yang sama itu tdk mudah. Semua 27 orang tersebut secara signifikan tidak menunjukkan gejala depresi pasca melahirkan dan ini merupakan hasil yg luar biasa.

Jumlah tidak banyak tapi begitu menjanjikan dan dengan semakin banyak yang mengikuti pelatihan ini akan memperkuat hasil yang ada serta memberi kesempatan untuk mengevaluasi isi pelatihan.

“Kepada calon ibu yang sudah pernah mengalami depresi sebelum kehamilan merupakan kelompok ibu yang punya resiko lebih tinggi dalam mengalami depresi pada masa kehamilan krn berbagai perubahan yang terjadi,” terangnya lagi.

Ia menjelaskan, anak perempuan yang ibunya depresi pada usia muda, maka anaknya mudah depresi. Sementara, bila hal tersebut terjadi padaka anak laki-laki, maka mereka akan sering mengalami keterlambatan pertumbuhan.

“Seperti kecerdasan IQ-nya kurang, kemampuan sosialnya mundur, dan masalah psikologis lainnya. Banyak kasus anak berakar dari ibu yang depresi pasca melahirkan. Maka, saya berpersan jadilah ibu yang mampu mengatasi masalah dengan cara sehat dan bijaksana, jadilah ibu yang bahagia pula,” tandasnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini