nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nuansa Kehidupan Kerajaan di Tengah Kemegahan Kota Seoul

Risna Nur Rahayu, Jurnalis · Kamis 15 Desember 2016 16:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 12 15 406 1567385 nuansa-kehidupan-kerajaan-di-tengah-kemegahan-kota-seoul-8tRl3G4xKK.jpg Moon Guest House di Seoul, Korea Selatan (foto: Risna/Okezone)

BILA Anda merencanakan liburan ke Korea Selatan, salah satu tempat yang sebaiknya didatangi adalah Moon Guest House di kawasan Jongno-gu, Seoul. Di sini, Anda akan merasakan kehidupan kerajaan di masa lampau.

Moon Guest House dulunya istana dan tempat pertemuan para pejabat pada masa Dinasti Joseon. Bangunannya sampai saat ini masih terjaga dan sekarang menjadi salah satu destinasi wisata terkenal di Seoul.

Moon Guest House memiliki luas sekira 300 meter persegi yang bangunannya didominasi kayu. Sementara dindingnya terbuat dari kertas, yang setiap musim diganti. Di halaman terdapat sejumlah tanaman sehingga Guest Moon House tampak asri.

Okezone berkesempatan mengunjungi Moon Guest House dua hari lalu. Letak Moon Guest House ini berada dalam gang, sekira 400 meter dari jalan utama. Begitu sampai, seorang wanita paruh baya berkacamata yang menjaga Moon Gues House ini, menyambut dengan senyuman.

Selama berada dalam Moon Guest House pengunjung berkesempatan mengenakan pakaian adat Korea Selatan (hanbok). Pakaian adat Korea Selatan ini berwarna-warni dan tersedia untuk laki-laki dan perempuan.

Tapi tahukah Anda? Bahwa setiap corak dan warna pada hanbok memiliki arti. Misalnya, hanbok dengan corak naga, berarti hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan.

"Koleksi baju tradisional di sini, mulai dari baju keluarga kerjaan, bangsawan, bangsawan muda, sampai militer," kata seorang penjaga Moon Guest House kepada Okezone.

Setelah mengenakan pakaian adat, pengunjung akan diajak mempraktikan Darye, tata cara masyarakat Korea Selatan minum teh. Tradisi minum teh secara santai ini dulunya dikenalkan oleh biksu sekembalinya dari Tiongkok.

Tradisi ini biasanya dilakukan untuk menjamu tamu. Tuan rumah dan tamu kemudian duduk berhadapan di mana yang jadi pemisah adalah meja berukuran rendah yang di atasnya terdapat nampan berisi peralatan-peralatan menyeduh teh.

Peralatan yang dibutuhkan yakni dua buah poci, satu berukuran sedang dan satunya lagi berbentuk khusus terdapat tangkai di bagian tengah seperti gayung. Kemudian dua buah cawan, tatakan tutup poci (teko), wadah teh. Poci yang berukuran besar, berisi air panas.

Tuan rumah lalu menuangkan air panas ke perangkat yang ada untuk membersihkan sekaligus untuk mengahatkan perangkat. Setelah itu, air dalam poci besar dituangkan ke mangkuk besar. Dari sini, air lalu dituangkan ke poci khusus yang sudah berisi teh.

Tunggu beberapa menit, selanjutnya tuan rumah menuangkan teh ke cawan tamu lebih dulu. Mendahulukan tamu merupakan cara masyarakat Korea Selatan menghormati tamu. Menuangkan teh ke cawan pun tak sembarangan, tutup poci harus tertutup oleh tangan.

Selanjutnya cawan yang sudah berisi teh diserahkan ke tamu. Ada aturan lainnya, tamu harus langsung meminum teh tersebut, barulah tuan rumah boleh meminum teh bagiannya.

Dari tradisi Darye ini, bisa dibilang masyarakat Korea Selatan terdahulu bukanlah orang yang terburu-buru seperti sekarang. Bila Anda berkunjung ke Korea Selatan, melihat orang berlari-lari di eskalator merupakan pemandangan biasa.

Menurut pemandu yang menemani Okezone, perubahan perilaku karena trauma masa lalu setelah dijajah Jepang selama 35 tahun.

Masyarakat Korea Selatan era ini berpikiran maju. Mereka mengutamakan pendidikan, disiplin, dan pekerja keras. Efeknya, tingkat stres masyarakat di sini cukup tinggi. Nah, bisa saja darye menjadi pengurang stres mereka karena nuansanya yang santai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini