Share

KALEIDOSKOP 2016: Penyakit Jantung, Stroke dan Diabetes Pembunuh Nomor 1 di Indonesia

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Kamis 22 Desember 2016 11:05 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 22 481 1572935 kaleidoskop-2016-penyakit-jantung-stroke-dan-diabetes-pembunuh-nomor-1-di-indonesia-tamR6GK8lf.jpg Ilustrasi (Foto: Cbsnews)

PENYAKIT tidak menular (PTM), seperti jantung, stroke, dan diabetes masih menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia cenderung meningkat.

Stroke dan penyakit jantung

Dari Data Global Burden of Disease 2010 dan Health Sector Review 2014 menyebutkan, stroke merupakan penyebab kematian tertinggi pertama hingga kini. Padahal 30 tahun silam, penyakit menular seperti ISPA, tuberkulosis dan diare banyak dialami penduduk Indonesia.

Sementara, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, prevalensi hipertensi dan stroke terkait rokok semakin meningkat. Prevalensi hipertensi di Indonesia meningkat dari 7,6 pesen pada tahun 2007 menjadi 9,5 persen pada tahun 2013. Sedangkan prevalensi stroke meningkat dari 8,3 persen menjadi 12,1 persen dalam tahun jangka waktu yang sama.

Sedangkan Survei Sample Registration (SRS) tahun 2014 di indonesia, penyakit jantung koroner dinilai penyebab kematian kedua setelah stroke, dengan prevalensi sebesar 12,9 persen.

Oleh karena itu, ketahui beberapa fakta menarik berikut soal penyakit jantung berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Kementerian Kesehatan RI.

Prevalensi penyakit jantung Indonesia

Tahun 2007, mengungkapkan 7,2 persen atau 7 dari 100 orang menderita penyakit jantung berdasarkan diagnosis. Sedangkan pada tahun 2013 prevalensi penyakit jantung yang didiagnosis mencapai 1,5 persen berdasarkan diagnosis dan pemeriksaan gejala menderita penyakit jantung koroner.

Penderita jantung koroner di NTT tertinggi

Ternyata prevalensi penyakit jantung koroner yang tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebesar 4,4 persen dan terendah di Provinsi Riau sebesar 0,3 persen.

NTT juga menempati peringkat tertinggi gagal jantung

Prevalensi penyakit gagal jantung nasional berdasarkan Riskesdas 2013 sebesar 0,3 persen. Prevalensi tertinggi terdapat di NTT sebesar 0,8 persen dan terendah di Kalimantan TImur, Bangka Belitung, Lampung, Bengkulu, dan Jambi sebesar 0,1 persen.

Penderita terbanyak di 65 - 74 tahun

Prevalensi penyakit jantung koroner banyak terjadi di usia 65 - 74 tahun (3,6 persen), lebih dari usia 75 tahun (3,2 persen), diikuti usia 55 - 64 tahun (2,1 persen), usia 35 - 44 tahun (1,3 persen).

Penderita jantung berdasarkan status ekonomi

Menurut status ekonomi, penyakit ini banyak diderita oleh masyarakat ekonomi tingkat bawah (2,1 persen) dan menengah ke bawah (1,6 persen).

Penyakit jantung menghabiskan modal tertinggi

Biaya yang dihabiskan pemerintah untuk menanggung penyakit katastropik sebesar Rp 13,6 triliun, dimana otal biaya penyakit jantung yang ditanggung mencapai 5,66 triliun rupiah. Diikuti dengan hipertensi sebesar Rp 3,21 triliun.

Pencegahan CERDIK

Kementerian Kesehatan memberikan imbauan untuk mencegah dan mengendalikan penyakit jantung koroner dengan CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin olahraga, Diet seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres).

Pemeriksaan kolesterol sekali dalam setahun

Kementerian Kesehatan memberi imbauan, setidaknya melakukan pemeriksaan kolesterol, setidaknya sekali dalam setahun di Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular) atau ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Diabetes

Penderita diabetes di Indonesia diperkirakan telah mencapai 10 juta orang. Data tersebut didapat dari International Diabetes Federation tahun 2015. Di Indonesia sendiri, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) prevalensi penyakit diabetes memang terus meningkat.

Di Indonesia, data Riskesdas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi diabetes dari 5,7 persen pada tahun 2007 menjadi 6,9 persen atau sekira 9,1 juta pada tahun 2013. Selain itu, diabetes juga menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia.

Data Sample Registration Survey tahun 2014 menunjukkan bahwa diabetes merupakan penyebab kematian terbesar ke-3 di Indonesia dengan persentase 6,7 persen, setelah stroke 21,1 persen dan penyakit jantung koroner 12,9 persen.

Sementara, data di tahun 2015 menyebutkan, 415 juta orang dewasa di dunia. mengidap diabetes. Angka ini menunjukkan kenaikan sebanyak 4 kali lipat dari 108 juta orang dewasa di tahun 1980-an. Bahayanya, di tahun 2040 mendatang, pengidapnya semakin bertambah dengan perkiraan 642 juta kaum urban.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa jumlah pasien diabetes di seluruh dunia telah mencapai 422 juta orang. Tak hanya itu, WHO juga mengeluarkan data mencengangkan bahwa diabetes menyebabkan 1,5 juta kematian pada tahun 2012 dan 2,2 juta kematian terkait, terutama karena risiko kardiovaskular meningkat.

Namun, dalam laporan dikatakan, banyak dari kematian bisa dihindari dengan mendorong kebiasaan sehat serta meningkatkan perawatan dan pengobatan penyakit. Laporan tersebut menunjukkan bahwa 'epidemi' diabetes didorong oleh gaya hidup tidak sehat dan meningkatnya obesitas. Kelebihan berat badan atau obesitas memang merupakan faktor risiko untuk diabetes tipe 2.

Sayangnya, pada tahun 2014, lebih dari sepertiga orang dewasa di seluruh dunia mengalami kelebihan berat badan dan lebih dari 1 di antara 10 orang mengalami obesitas. Karena itu, WHO mengatakan, perilaku makan sehat dan berolahraga harus lebih dipromosikan.

Untuk perilaku makan, bisa mengganti asam lemak jenuh dengan asam lemak tak jenuh ganda dan cukup makan serat, seperti sayur dan buah. Selain itu, WHO juga menganjurkan untuk menekan kebiasaan merokok dengan langkah legislatif atau peraturan fiskal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini