Tantangan 'Pariwisata Medis' di Indonesia untuk Bersaing dengan Negara Tetangga

Maria Amanda Inkiriwang, Jurnalis · Selasa 24 Januari 2017 15:35 WIB
https: img.okezone.com content 2017 01 24 481 1599689 tantangan-pariwisata-medis-di-indonesia-untuk-bersaing-dengan-negara-tetangga-C1OFHpMEz1.jpg Ilustrasi (Foto: Healthcaredive)

BEBERAPA pasien asal Indonesia lebih memercayai ahli medis di rumah sakit luar negeri dibandingkan di dalam negeri. Kepercayaan inilah yang membuat pariwisata medis di luar negeri seakan lebih laku dibandingkan di Indonesia.

Tak sedikit masyarakat Indonesia yang percaya akan kualitas dari pelayanan dan teknologi rumah sakit di luar negeri. Namun, di samping itu ada banyak faktor lain yang menjadi pertimbangan masyarakat Indonesia untuk "berwisata medis" ke negara tetangga, seperti Singapura, maupun Malaysia yang terkenal dengan wisatanya di Penang dan Kuala Lumpur.

Menurut dr Kuntjoro Adi Purjanto, MKes, Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI), ada begitu besar potensi pariwisata Indonesia yang bisa dijadikan daya tarik untuk wisata medis. Namun, ada beberapa hal yang masih menjadi kendala.

"Seseorang keluar negeri karena teknologi. Di Amerika banyak yang ke Thailand atau Singapura karena antriannya yang panjang di negara asal," ungkap dr Adi dalam Forum Diskusi Kesehatan bertema 'Mengembangkan Potensi Pariwisata Medis' di Bentara Budaya, Palmerah, Jakarta Pusat, Selasa (24/1/2017).

Dr Adi menambahkan, dari segi ongkosnya pun lebih murah ketika mereka menghitungnya secara total, mulai dari penginapan, travel, tiket, dan biaya rumah sakit.

"Kemudian dari segi akses, di sini lebih sulit dibandingkan di Penang. Mereka bisa melakukan penjemputan, sedangkan di sini perlu naik berapa kali angkutan. Hospital itu sama aja kayak bisnis hospitality. Bisa saja mahal tapi juga memuaskan," jelas dr Adi.

Sementara itu, dr Grace Frelita MM. Managing Director Siloam Hospital Group, mengungkapkan bahwa begitu banyak pasien di rumah sakit Singapura. Ada beberapa hal yang belum dapat ditemukan para pasien ini.

Termasuk para turis asing yang sedang melakukan perawatan, mereka melontarkan beberapa feedback pada pelayanan yang ada di rumah sakit Indonesia.

"Yang menjadi feedback adalah komunikasinya yang belum lancar. Orang-orang asing di negara barat lebih demanding, semuanya mau jelas mulai dari perawatan dan setelahnya. Untuk itu kita kurang dan masih butuh waktu," kata dr Grace.

Ia berpandangan bahwa Indonesia memiliki beberapa kelabihan yang bisa ditonjolkan, mulai dari segi keramahannya dan kekayaan Indonesia yang bisa "dijual" untuk pariwisata medis. Melihat potensi yang ada, dr Grace berharap wisata medis di Indonesia perlu segera direalisasikan dengan persiapan yang matang.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini