nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menguak Sejarah Sup Sirip Hiu pada Perayaan Imlek

Devi Setya Lestari, Jurnalis · Kamis 26 Januari 2017 11:53 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 01 26 298 1601476 menguak-sejarah-sup-sirip-hiu-pada-perayaan-imlek-HlHD7ExCxt.jpg Sup sirip hiu (Foto: Eco Business)

JENIS dan jumlah hidangan saat imlek sangat beragam. Momen tahun baru ini bahkan bisa dikatakan sebagai waktu di mana makanan khas Chinese berlimpah dan makanan langka kadang kerap hadir saat Imlek. Salah satunya sup sirip hiu yang kontroversi.

Hampir semua makanan khas Imlek memiliki makna dan filosofi yang berarti kebaikan. Demikian juga dengan sup sirip hiu, semangkuk sup ini ternyata punya sejarah panjang.

Dilansir dari SharkTruth, Kamis (26/1/2017) sejarah mulainya sup sirip hiu atau shark fin soup dimulai pada masa kekuasaan Kaisar dari Dinasti Sung. Kaisar ini termasuk yang sangat murah hati dan kerap membagikan kekayaannya pada tamu undangan saat merayakan pesta. Banyak hidangan mewah dan mahal yang disajikan Kaisar untuk menjamu para tamunya, maksudnya hanya satu yakni sebagai tanda penghormatan.

Salah satu makanan mewah yang disajikan adalah sup sirip hiu. Sup hangat ini kemudian menjadi populer dan jadi salah satu simbol dari Big 4 yakni, empat sumber makanan yang sacral dalam tradisi dan budaya masyarakat China. Makna dari empat hidangan ini antara lain sebagai lambang kemakmuran dan kesehatan.

Empat bahan makanan ini adalah Abalone, teripang, sirip ikan hiu dan ikan maw. Khusus untuk sirip ikan hiu dianggap sebagai simbol status kedudukan dan wajah rupawan. Dalam perayaan Imlek, sup sirip hiu melambangkan kelas dan kekayaan. Setiap keluarga Tionghoa yang menyajikan sup sirip hiu saat Imlek maka akan dipandang oleh masyarakat sekitar.

Dalam kehidupan sehari-hari, sup sirip hiu juga kerap hadir dalam pesta pernikahan. Jika tamu undangan disuguhkan sup sirip hiu maka mereka menganggap mempelai pria datang dari keluarga yang berada sementara jika tak ada hidangan sup sirip hiu makan tamu akan langsung menilai mempelai pria adalah golongan tidak punya atau miskin.

Tak hanya itu, sup sirip hiu juga sering jadi jamuan makan saat satu keluarga besar berkumpul. Orang tua yang sudah memiliki anak serta cucu akan menyuguhkan sup sirip hiu sebagai tanda kemakmuran. Sup sirip hiu diartikan sebagai ungkapan bahwa ini adalah hadil keberhasilan orang tua telah bekerja keras hingga akhirnya bisa menyajikan makanan mewah untuk anak dan cucu.

Tapi tradisi turun-temurun ini agaknya terancam punah karena sekarang banyak organisasi pecinta hiu yang menganggap tradisi ini mengancam populasi hiu di laut. Meski masih ada yang menyajikan sup sirip hiu, jumlahnya tak sebanyak dahulu. Sirip hiu juga sudah dikategorikan sebagai bahan yang ilegal karena hiu termasuk salah satu hewan dilindungi.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini