Mengenal Latte Factor, Pengeluaran Bulanan yang Berhubungan dengan Tingkat Status Sosial

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Rabu 01 Februari 2017 13:18 WIB
https: img.okezone.com content 2017 02 01 196 1606504 mengenal-latte-factor-pengeluaran-bulanan-yang-berhubungan-dengan-tingkat-status-sosial-qo0R7cKAgm.jpg Ilustrasi wanita cantik (Foto: Huffingtonpost)

HIDUP generasi milenial seakan tak bisa lepas dari perkembangan teknologi dan pengeluaran yang seharusnya tidak begitu penting, seperti latte factor. Lalu apakah latte factor sendiri?

Latte factor merupakan pengeluaran-pengeluaran kecil untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan namun dilakukan berulang kali. Seperti membeli Coffee shop setiap hari hingga beli aksesori baru setiap bulan. Psikolog Ajeng Raviando menuturkan, tren ini merupakan kebiasaan dimanja sejak kecil.

“Kebiasaan ini membuat mereka tidak dapat menahan keinginannya untuk mendapatkan sesuatu secara cepat tanpa pikir panjang. Akibatnya, mereka kerap mengeluarkan uang untuk barang-barang sekadar untuk memuaskan nafsu atau mengikuti tren yang sedang berlangsung,” tutur Ajeng dalam Gerakan #SayangUangnya di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Selasa 31 Januari 2017.

Latte factor juga membuat seseorang tidak menyadari bahwa pengeluaran akan semakin banyak. Lebih bahaya lagi jika tidak diimbangi dengan upaya menabung atau tidak didukung gaji yang seimbang dengan gaya hidup.

Ajeng juga mengatakan, latte factor merupakan salah satu indikasi dari gangguan kecemasan pada seseorang. Akibat ingin bergaya hidup tinggi, seseorang rela mengeluarkan uang untuk mencapai gaya hidup tersebut.

“Ada hal yang menjadi kecemasan ketika tidak melakukan belanja. Menyangkut kalau enggak ganti baju setiap hari enggak kece atau kalau enggak beli kopi di situ (Coffee shop), enggak dapat status sosial,” ujar Ajeng.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk menangani ini? Menurut Ajeng, seseorang membutuhkan konsultasi untuk menangani tingkat kecemasan. Apalagi jika tingkat kecemasan sudah terlalu tinggi.

“Harus konsultasi. Apakah (mereka) ingin membeli sesuatu hanya secara psikologis. Kalau enggak (beli), akan menderita,” pungkas Ajeng.

(vin)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini