Image

Alasan Tenun dan Songket Betawi Dibanderol dengan Harga Selangit

Annisa Amalia Ikhsania, Jurnalis · Kamis 16 Februari 2017, 18:50 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 02 16 194 1620114 alasan-tenun-dan-songket-betawi-dibanderol-dengan-harga-selangit-XMYGjXtYSa.jpg Ilustrasu kain tenun (Foto: Google Image)

BETAWI dikenal memiliki satu kain tradisional, yaitu berupa kain batik dengan corak khas yang merupakan ikon Jakarta, ondel-ondel. Namun, kini sejumlah organisasi Betawi mulai melakukan langkah untuk mengenalkan dan mempopulerkan pamor Betawi melalui pengembangan kain tenun dan songket.

Ya, adalah Anna Mariana, seorang desainer, kolektor, pemerhati, dan pengembang kain songket, yang dianggap berhasil menciptakan kain songket dan tenun Betawi. Menurutnya, Betawi belum memiliki kain tradisional selain kain batik. Oleh karena itu, ia berinovasi untuk menciptakan kain tenun dan songket khas Betawi.

“Seperti yang diketahui budaya Betawi tidak memiliki tenun atau songket, yang ada hanya kain batik dengan motif kembang-kembang, ondel-ondel, atau monas. Karena itu, saya mencoba berinovasi dengan menciptakan kain tenun dan songket secara handmade,” tutur Anna Mariana yang ditemui di kawasan Jakarta Pusat, belum lama ini.

Lama dikenal sebagai seorang desainer yang mengembangkan kain motif Indonesia bagian Timur, kali ini Anna membantu Betawi mengembangkan budaya kain Betawi yang belum ada. Ia membantu melalui pengembangan kualitas kain dan membina para penenunnya.

Anna menuturkan, pengembangan tenun dan songket Betawi membutuhkan proses yang tak sebentar. Apalagi untuk menghasilkan tenun kelas premium menggunakan benang sutera.

Proses pengerjaan yang lama serta banyaknya konsumen yang menyukai produk terbuat dari tangan atau handmade, membuat harga tenun menjadi tidak murah.

Semakin rumit dan sulit corak yang diaplikasikan maka proses pengerjaan membuat harganya menjadi mahal. Pembuatan jenis songket katun murni bisa memakan waktu tiga hingga enam bulan.

Material kombinasi katun dan sutra bisa mencapai lebih dari enam bulan. Bahkan, untuk kualitas sutra murni bisa memakan proses pembuatan selama satu hingga satu setengah tahun.

Untuk motif biasa dibanderol mulai dari di bawah Rp5 jutaan ke atas. Sementara, motif yang sulit dan jenis sutera murni bisa di atas Rp40 juta hingga Rp100 juta.

“Diperlukan keterampilan, keuletan, ketekunan, dan kesabarakn khusus dari para penenun. Menenun menggunakan benang sutera itu rumit. Oleh sebab itu, harga songket dan tenun menjadi mahal bahkan cenderung fantastis,” tandas pemilik butik Marsya House of Batik Kebaya, Tenun, Songket, & Acessories itu.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini