nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

FOOD STORY: Muasal Warteg, Merantau ke Jakarta Orang Tegal Awalnya Menjual Nasi Ponggol

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 19 Februari 2017 07:10 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 02 17 298 1621538 food-story-muasal-warteg-merantau-ke-jakarta-orang-tegal-awalnya-menjual-nasi-ponggol-cgl9lktEqq.jpg Menu warteg ala gourmet (Foto:Twitter)

BAGI para pekerja kantoran, anak kos, ataupun para pencinta kuliner murah meriah, pasti sudah familiar dengan warteg. Tempat makan ini menjadi salah satu pilihan favorit karena menyuguhkan berbagai hidangan prasmanan yang lezat dengan harga terjangkau.

Berdasarkan namanya, warteg atau Warung Tegal memang berasal dari Kota Tegal, Jawa Tengah. Saking populernya, warteg kini sudah tersebar di seluruh daerah di Indonesia.

 

A post shared by lice yunita (@lice_nelalena) on


Dirangkum Okezone, asal-usul warteg pertama kali muncul pada masa Pemerintahan Presiden Soekarno, tahun 1960-an. Kala itu, Ibu Kota sedang mengalami pembangunan infrastruktur yang sangat pesat, sekaligus menandakan 20 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Usut punya usut, sebagian besar pekerja proyek ternyata merupakan warga asli Tegal. Mereka berbondong-bondong mengadu nasib dengan bekerja sebagai buruh bangunan, dan tugas utama mereka adalah membuat bedeng.

Tak sedikit pekerja yang memboyong istri mereka untuk ikut hijrah ke Ibu Kota Jakarta. Berniat membantu meringankan beban suami, para istri kemudian mencoba menjual nasi ponggol yang dikenal sebagai salah satu kuliner khas Tegal.

 

A post shared by Bang Jud (@kulinerbangjud) on


Kudapan tersebut terdiri dari nasi putih, beberap lauk seperti tahu, tempe, dan sambal, yang dibungkus dengan pisang. Dengan kombinasi yang cukup bervariasi dan rasanya yang lezat, nasi ponggol ternyata berhasil menjadi makanan kesukaan para pekerja proyek. Hal ini juga didukung oleh harganya yang cukup terjangkau.

Seiring berjalannya waktu, para pedagang nasi ponggol pun mulai memberanikan diri membangun bangunan khusus untuk menjajakan makanannya. Salah satu ciri khas bangunan warteg yang hingga saat ini masih dipertahankan adalah ukurannya yang mungil sekitar 3x3 meter, dan bercat biru pada bagian depannya.

Variasi makanannya pun sudah mulai bervariasi. Bahkan, sudah banyak warteg yang juga menjual makanan lokal tempat mereka membuka usaha. Menarik bukan?

A post shared by Towitowi (@towitowi) on


(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini