nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Memanjat Parang via Ferrata Bersama Profesional Panjat Tebing, Bikin Amatir Ketagihan

Erika Kurnia, Jurnalis · Minggu 19 Februari 2017 12:21 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 02 19 406 1622338 memanjat-parang-via-ferrata-bersama-profesional-panjat-tebing-bikin-amatir-ketagihan-zAexp1CxRz.jpg Gunung Parang, Purwakarta (Foto: Erika Kurnia/Okezone)

LANGIT di hari Sabtu itu tidak seperti hari sebelumnya. Awan kelabu sama sekali tidak memberi celah sinar matahari untuk masuk, sehingga kekhawatiran akan turunnya hujan muncul. Pada hari itu, kami 13 orang hendak berangkat dari Jakarta menuju Tebing Parang di Purwakarta.

Dari Jakarta, kami bertolak dari Consina Outdoor Services di Jakarta Selatan dengan mini bus sebelum pukul 07.00. Rasa penasaran untuk mendaki via ferrata di Tebing Gunung Parang adalah yang membuat kami rela menyisakan waktu sehari di akhir pekan, 18 Februari 2017 kemarin.

Gunung Parang dikenal sebagai lokasi panjat tebing terbaik di Jawa Barat. Gunung berdinding batu dengan ketinggian lebih dari 900 mdpl tersebut cocok untuk aktivitas panjat tebing dan membuatnya sebagai lokasi panjat tebing tertinggi kedua di Asia.

Meski awalnya digangdrungi oleh profesional pemanjat tebing, gunung tersebut telah menjadi gunung pertama di Indonesia yang dipasangi jalur besi atau yang disebut via ferrata dalam bahasa Italia. Ini kemudian membuat Tebing Parang bisa dipanjar oleh pemanjat amatir.

Setelah berkendara lebih dari tiga jam, rombongan kami sampai di basecamp Parang via Ferrata, salah satu operator wisata panjat tebing via ferrata di Kampung Ciheuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegal Waru, Purwakarta, Jawa Barat.

Pihak keluarga yang menjadikan rumahnya sebagai basecamp pun menyambut kami dengan hidangan makanan siang yang telah disediakan. Saat itu, kami juga dikenalkan dengan Bapak Heri Hermanu, yang akan menjadi pemandu aktivitas kami hari itu.

"Kok kalian pada mau sih naik ke sana? Saya mah takut," candanya kepada kami. Pria yang berusia lebih dari paruh baya dengan jenggot panjang memutih tersebut mengenakan kaos bertuliskan "Perguruan Memanjat Tebing Indonesia, Skygers", kelompok panjat tebing modern yang dibangun di tahun 70-an.

Setelah masing-masing dari kami menggunakan peralatan keamanan pribadi standar untuk memanjat, serta membawa keperluan pribadi seperti jas hujan dan air minum, kami diberi pengarahan singkat dan teknik memanjat oleh Pak Heri.

"Saya yakin yang sudah niat untuk ikut ini tidak takut ketinggian. Kegiatan ini sifatnya santai. Nikmati saja perjalanannya. Saat naik jangan takut dan jangan konsentrasi pada kekuatan tangan. Yang benar seperti naik anak tangga, berat badan ada di kaki," pesannya, sambil menutup dengan doa.

Dari basecamp kami harus berjalan sekira 15 menit menuju kaki tebing, melalui hutan dan jalanan menanjak. Setelah sampai di kaki tebing, di mana ada pos peristirahatan, pengarahan kedua dilakukan agar instruksi lebih jelas.

Setelah semua siap, satu per satu peserta dengan Pak Heri dan dua penjaga yang membawa beberapa kebutuhan kami mulai memanjat. Target kami adalah memanjat setinggi 300 meter atau 500 meter jika diukur dari permukaan laut. Perjalanan normal, menurut Pak Heri, adalah satu jam.

Kami ber-15 orang, termasuk tujuh orang perempuan, bisa dengan cukup cepat menyesuaikan tantangan. Cuaca di tengah hari yang tidak panas tersebut, berkat kabut dan angin yang bergerak di sekitar Tebing Parang, cukup membantu kami memanjat tanpa henti ke ketinggian 300 meter.

Selama perjalanan ke atas, panitia acara dan peserta bahkan sempat beberapa kali berfoto dengan dengan berbagai pose, termasuk melepas kedua tangan setelah kail pengunci pengaman lainnya dipasang. Pemandangan desa, perbukitan, serta waduk jatiluhur, yang terlihat saat kabut tersingkap dari sekitar kami pun menjadi latar foto yang cantik.

Setelah hampir satu setengah jam, kami pun sampai di titik via ferrata terakhir, setelah melalui sekira 200an anak tangga. Teras sempit menjadi tempat kami beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan turun. Di sana, kami kembali bercengkrama dan menyeruput kopi dan teh panas untuk menghangatkan diri.

Panorama indah dari sekitar Gunung Parang terlihat lebih jelas di atas sana. Sementara di atas kami, dua pertiga ketinggian gunung berdiri kokoh dan menanti untuk dipasangi jalur besi oleh Parang Via Ferrata, yang baru dibuka November tahun lalu.

Setengah jam menikmati pemandangan dan memulihkan keberanian, kami kembali turun ke bawah dengan Pak Heri memimpin terlebih dahulu agar lebih mudah mengawasi kami para amatir dari bawah.

Sedikit lebih lama dari waktu naik sebelumnya, kami semua sampai kembali ke pos awal di kaki tebing hampir pukul lima sore. Beberapa peserta mengaku perjalanan turun lebih sulit daripada naik, tapi tidak ada seorang pun yang mengaku kapok memanjat tebing dengan via ferrata.

"Berkesan banget, pemandangannya bagus, pasti foto-fotonya keren. Yang bikin takut karena harus antri aja. Untung kita cuma ber-15 ya, coba kalau 50 orang. Kapan-kapan mau coba lagi," ujar salah satu peserta.

"Siapa aja bisa manjat tebing via ferrata. Dari anak-anak, kecuali bayi ya, sampai orang tua seperti saya bisa naik ke sini. via ferrata dengan alat keselamatannya ini aman, kok," pesan Pak Heri.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini