Waspada Saraf Kejepit Seiring Pertambahan Usia

Maria Amanda Inkiriwang, Jurnalis · Selasa 07 Maret 2017 16:29 WIB
https: img.okezone.com content 2017 03 07 481 1636512 waspada-saraf-kejepit-seiring-pertambahan-usia-eldj10KWBk.jpg Ilustrasi (Foto: Zeenews)

NYERI pada bagian pinggang bisa disebabkan banyak alasan, salah satunya saraf kejepit atau dikenal sebagai Herniasi Nukleus Pulposus (HNP). Biasanya, saraf kejepit ini terjadi karena gerakan tiba-tiba atau salah gerak.

Menurut dr Muki Partono, SpOT, spesialis ortopedi dari RS Pondok Indah Group, mengatakan, hampir 80 persen saraf terjepit bisa sembuh tanpa perlu diobati. Namun, Anda perlu memerhatikan posisi yang betul sebelum melakukan aktivitas tertentu.

"Hal bisa timbul ketika kita melakukan aktvitas yang salah. Ada kaitannya antara tulang belakang dan bantalan dengan aktivitas kita," jelas dr Muki di Pacific Place, Jakarta Pusat, Selasa (7/3/2017)

Menurut dr Muki, masalah saraf kejepit yang serius cukup sedikir jumlahnya, hanya 1 persen dari 250 juta orang Indonesia. Masalah saraf kejepit ini biasanya dipengaruhi oleh faktor usia yang kian bertambah.

"Kalau kita muda semuanya masih oke. Tapi seiring dengan berjalannya waktu dia mengalami degeneratif. Ketika usianya 33 tahun suka atau tidak suka, ia mengalami homeostasis," jelasnya.

Homeostasis terjadi saat penurunan fungsi organ, termasuk penurunan fungsi bantalan dan tulang. Dr Muki menambahkan, penurunannya satu persen per tahun secara tidak disadari.

"Sehingga ia (bantalan tulang) lebih menyempit, memendek, dan kadang-kadang disertai dengan penonjolan. Kalau HNP terjadi, tulang belakang bisa dirasa nyeri," tukasnya.

Salah satu hal sederhana yang bisa Anda lakukan untuk mencegah terjadinya nyeri adalah dengan melakukan olahraga ringan. Tak lupa minum air putih dan konsumsi protein untuk merawat fungsi bantalan tulang.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini