AWAS! Jamu Tradisional Tak Berijin dan Berbahan Kimia Banyak Beredar di Pasaran

Bramantyo, Jurnalis · Rabu 08 Maret 2017 09:20 WIB
https: img.okezone.com content 2017 03 08 481 1637045 awas-jamu-tradisional-tak-berijin-dan-berbahan-kimia-banyak-beredar-di-pasaran-jk69PLebnh.jpg Ilustrasi (Foto: Dok.Okezone)

SOLO-Indonesia dikenal sebagai negara yang subur. Beraneka rempah dan bahan jamu kualitas terbaik berasal dari Bumi Nusantara.

Bahkan, sejak nenek moyang dan kini menjadi warisan turun-temurun, jamu menjadi icon dan ciri khas yang hanya ada di Indonesia. Aneka obat herbal atau jamu tradisional yang menjadi warisan turun temurun, saat ini banyak dikonsumsi masyarakat dan terkadang menjadi obat alternatif, di luar obat yang dikeluarkan oleh industri Farmasi.

Kepala Dinas Kesehatan Solo Siti Wahyuningsih, menyampaikan sangat penting bagi masyarakat untuk mengetahui kandungan dari Obat herbal atau jamu tradisonal yang selama ini dikonsumsi masyarakat. Menurutnya, harus tetap ada standar kesehatan yang dipenuhi.

"Apapun itu jamu atau obat herbal tetap harus memenuhi standar kesehatan," jelasnya di Solo saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Pengembangan dan Kewaspadaan Obat Herbal, di Solo, Jawa Tengah, Rabu (8/3/2017)

Pasalnya saat ini, banyak sekali ditemukan obat herbal, namun setelah dilakukan penelitian dalam kandungannya juga dicampurkan Bahan Kimia Obat (BKO). Selain itu, juga ditemukan di pasaran obat herbal tersebut tidak memiliki ijin edar.

"Ini yang harus diketahui masyarakat. Agar bisa terlindungi dari bahaya meminum jamu tradisonal tak berijin yang berimbas pada kesehatan, karena ada kandungan Bahan Kimia Obat," pesan Siti Wahyuningsih.

Untuk menghindari penggunaan bahan kimia, Dinas Kesehatan Kota Solo seringkali memberikan pelatihan dan juga bimbingan pada produsen obat tradisional, terutama jamu gendong. Begitu pun obat racikan lainnya yang diseduh dan dikonsumsi masyarakat.

"Di mana mereka akan diajarkan bagaimana mengolah bahan baku, proses pembuatan dan pengemasan harus higienis," lanjutnya.

Selain itu, para produsen besar tersebut juga membuat inovasi produk jamu tradisional yang selama ini masyarakat mengenal hanya rasa pahit dan getir khas rempah-rempah. Dengan bantuan teknologi modern, rasa jamu tradisional akan mendapat sentuhan rasa baru yang manis dan bisa diterima masyarakat, tanpa mengurangi manfaatnya.

Rencana ke depannya, untuk menginovasi jamu tradisional khas Indonesia, salah satu industri obat tradisional berskala besar dengan menggandeng peneliti dan tim ahli bidang tanaman obat herbal dari universitas di seluruh Indonesia, termasuk salah satunya UNS Surakarta. Mereka akan berkompetisi dalam Ristekdikti-MTIC Award 2017 dengan mengumpulkan hasil penelitian tentang tanaman obat.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini