Image

Napak Tilas Perjuangan Kartini dari Kamar Pengabdian hingga Sekolah

Tentry Yudvi, Jurnalis · Jum'at 21 April 2017, 11:11 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 04 20 406 1672685 napak-tilas-perjuangan-kartini-dari-kamar-pengabdian-hingga-sekolah-IryrOrRd2l.JPG Museum Kartini (foto: Instagram/@dee_rozak)

PERJUANGAN Kartini patut untuk diperingati setiap tahunnya, sebab tanpa dirinya perempuan di Indonesia mungkin akan sulit untuk mendapatkan kesetaraan gender terutama dalam mengenyam pendidikan. Untuk itu, yuk tapak tilas sisa-sisa perjuangan di Jepara dan Rembang sebagai Kota Kartini.

Semasa hidup Kartini tinggal di Kota Jepara dan tinggal di sebuah rumah di kawasan Jalan Alun-Alun Nomor 1, yang kini menjadi Museum R.A. Kartini. Bangunan itu pun masih kokoh dan menyimpan cerita mengharukan mengenai perjuangan Kartini selagi masih hidup.

Kartini lahir pada 21 April 1879 dan sudah tinggal di rumah itu sejak kecil. Tahun tersebut juga menjadi masa pelik Tanah Air karena masih dijajah Belanda, di mana sekolah kala itu hanya untuk kaum elite, sementara pribumi hanya laki-laki saja yang diutamakan untuk duduk di bangku sekolah.

Melihat ketidaksetaraan itulah membuat Kartini sebagai keturunan dari keluarga Priyayi pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dan M.A. Ngasira tersebut geram untuk memperjuangkan hak wanita agar setara dengan pria terutama untuk masuk ke sebuah sekolahan.

Pemikiran Kartini yang progressive tersebut ternyata sudah ada sejak dirinya masih berusia 12 tahun, di mana ia tidak diizinkan oleh sang ayah untuk melanjutkan studi setelah lulus dari bangku sekolah dasar di Ropese Lagere School (ELS), yang ajarannya menggunakan bahasa Belanda.

Sejak saat itu, Kartini kemudian mengabadikan hidupnya untuk menulis surat kepada korespondensinya yang berasal dari Belanda. Kumpulan surat itu pun kini sudah dijadikan buku legendaris dengan judul l “Habis Gelap, Terbitlah Terang.” Yang ditulis di kamar pribadinya. Kini kamar tersebut pun dijadikan sebuah museum untuk mengenang masa pelik R.A Kartini dengan nama Museum Kamar Pengabdian Kartini Rembang.

Teras Samping rumah kediaman R.A.Kartini di Rembang #museumkartinirembang #explorerembang #heritage

A post shared by Stefy P. Anggraini (@cho2inside) on Jul 28, 2015 at 2:48am PDT

Di dalam kamar itulah, banyak perkakas peninggalan Kartini yang bisa Anda lihat dan rasakan. Di mana tinta, hingga koleksi lukisan masih bisa ditemukan di dalamnya. Kasur beliau pun masih tertata rapih, kasur yang tak hanya menjadi tempat tidur beliau saja tetapi juga menjadi sebuah kamar bersalin ketika dirinya melahirkan anak tunggalnya.

Catatan sejarah kisah pelik Kartini pun kembali terputar ketika berada di kamar tersebut. Di sinilah Kartini belajar banyak mengenai dunia setelah ia berkenalan dengan seorang teman asal Belanda bernama Rosa Abendanon yang menjadi sahabat terbaik dan selalu mendukung pergerakan yang dilakukan Kartini.

Masa kecil hingga besarnya, setelah mengenal Rosa, Kartini kemudian membaca banyak koran dan juga buku-buku dari Eropa. Ia pun membaca koran de lokomotief sebuah surat kabar dari Semarang yang di bawah pimpinan Pieter Brooshoof.

Dari sana beliau menunjukan kepintarannya yang tak kalah dengan kaum pria, ia kemudian menulis dan menyumbang tulisan di salah satu majalah wanita De Hollandsche Lelie karena beliau melihat jika perempuan di Eropa sana sudah sangat maju sedangkan di Indonesia, perempuan dianggap paling rendah.

Dalam tulisan-tulisan yang dikirimkannya ia pun memberikan wawasan luas mengenai kebudayaan dan ilmu pengetahuannya yang sudah dibaca melalui buku-buku dan surat kabar dari Eropa.

Hingga dewasa, Kartini pun sudah menuntaskan buku berbahasa Belanda di antaranya De Stille Kraacht milik Louis Coperus, Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta yang ditulis Multatuli, Van Eeden, roman-feminis oleh Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan Die Waffen Niede roman anti-perang dari Berta Von Suttner.

Dari situlah pemikiran kritis akan kesetaraan hak dan gender semakin maju, dan R. A Kartini pun memimpikan untuk membangun sekolah khusus wanita untuk membuat mereka setara hingga saat ini.

Setelah menikah dengan seorang Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, ia pun berhasil mendirikan sekolah dengan ajaran bahasa Belanda. Di sanalah wanita diberikan pendidikan yang layak dan seusai untuk mencerdaskan bangsa.

Bangunan sekolah tersebut pun bisa ditemukan di Jalan Sultan Agung 77 Gajahmungkur, Semarang. Bangunan pun masih berdiri kokoh dan menyimpan banyak sejarh bernuansa tempo doloe.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini