Penyakit Difteri Pertusis Tetanus Bisa Dicegah dengan Vaksin Combo

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 26 April 2017 19:39 WIB
https: img.okezone.com content 2017 04 26 481 1677150 penyakit-difteri-pertusis-tetanus-bisa-dicegah-dengan-vaksin-combo-rDg6k1Vcjv.jpg Ilustrasi (Foto: Vaccineimpact)

DIFTERI, pertusis dan tetanus merupakan salah satu jenis vaksin combo yang diberikan untuk bayi usia dua bulan. Vaksin ini efektif mencegah kejadian penyakit menular dari bakteri dan virus di lingkungan sekitar.

Dijelaskan Ketua Satgas Imunisasi PP IDAI Prof Dr dr Cissy B Kartasasmita SpA(K) MSc, perjalanan penyaktit difteri, pertusis dan tetanus cukup berbahaya bagi anak. Seperti contoh, penyakit difteri sangat menular dan disebabkan oleh corynebacterium diphtheriae.

Sumber infeksi penyakit itu hanya dari manusia. Ditularkannya melalui saluran pernapasan.

"Difteri termasuk penyakit saluran pernapasan bagian atas, dengan angka kematian tertinggi pada usia muda dan lansia," ujar Prof Cissy saat ditemui di Gedung IDAI, kawasan Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (26/4/2017).

Gejala awal difteri meliputi, anak menaglami iritasi, tak ada gairah untuk beraktivitas, hingga adanya bercak di bagian faring.

Jika gejalanya berujung akut, anak juga bakal mengalami jaringan faring mengalami inflamasi. Ini membuat membran sel faring nyeri dan membesar.

"Jika terjadi komplikasi, kematian akibat difteri terjadi sekira lima sampai 10 persen kasus," tambahnya.

Lebih lanjut, Prof Cissy menjelaskan, bila anak tak mendapatkan vaksin DPT juga rentan mengalami batuk rejan 100 hari atau disebut pertusis. Penyakit ini sama-sama menular, tapi disebabkan oleh bordetella pertussis.

Kontak penularannya dari pasien yang sudah menderita pertusis. Insidensinya meningkat pada bayi di bawah enam bulan.

"Penyakit ini beban globalnya sekira 136.372 kasus di 2003. Lalu, meningkat jadi 152.535 kasus di tahun 2007," ujar Prof Cissy.

Anak yang menderita pertusis bakal mengalami gejala infeksi saluran napas sekunder, dengan konsekuensi batuk parah. Bahkan disertai dengan konjungtivitas mata dan sesak napas.

Bisa-bisa pasiennya juga kejang, serta mengalami kerusakan otak permanen. Penyakit ini mengancam nyawa 87 persen bayi di bawah usia satu tahun.

Selanjutnya, anak juga rentan mengalami tetanus. Penyakit ini pada dasarnya tidak menular, lalu disebabkan oleh clostridium tetani.

Gejala khasnya, anak bisa mengalami otot kaku, nyeri leher, atau kaku kuduk. Ini tentu dapat menghalangi aktivitas anak dengan normal.

Karena bahayanya toga penyakit mematikan itu, orangtua wajib memberikan anaknya vaksin DPT. Dampaknya bisa membuat demam, tetapi tak semua dialami bayi Anda.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini