nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jangan Takut, Ayo Lawan Kanker Serviks Sebelum Terlambat!

Helmi Ade Saputra/Dewi Kania/Maria Amanda, Jurnalis · Sabtu 29 April 2017 14:12 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 04 29 481 1679369 jangan-takut-ayo-lawan-kanker-serviks-sebelum-terlambat-J5kxXKnv2o.jpg Ilustrasi (Foto: Plannedparenthood)

KANKER serviks belakangan ini terus menjadi perbincangan hangat. Selain karena artis Julia Perez yang juga mengidapnya, jumlah penderita kanker serviks memang terus bertambah setiap tahun.

Kanker serviks mengancam 228 per 100.000 penduduk di Indonesia. Kanker serviks menjadi penyakit kanker nomor 2 terbanyak yang dialami wanita di Indonesia, setelah kanker payudara.

Penyakit ini ditemukan pada satu dari 1.000 wanita, dengan angka kematian 80 persen per tahun. Sementara, berdasarkan Data Globocan, sekira 7.800 orang meninggal dunia akibat penyakit penyakit mematikan itu.

Sementara itu, Tim Perwakilan Organisasi Aksi Solidaritas Kabinet Kerja (OASE), istri Menteri Perhubungan RI, Sri Endang Haryatie Budi Karya Sumadi menyebut, kanker serviks merupakan kanker yang menyebabkan kematian tingkat teratas pada wanita.

Endang mengatakan, dari data rumah sakit Sentral Indonesia, menunjukkan terdapat 15.000 pasien baru kanker leher rahim setiap tahunnya, 8.000 di antaranya meninggal dunia.

''Secara statistik hampir setiap 1 jam terdapat 1 perempuan yang meninggal akibat kanker rahim,'' kata Endang, dalam sambutannya di Gebyar Deteksi Dini Kanker Serviks (Iva/Papsmears), Kota Bengkulu, belum lama ini.

Kanker Serviks atau kanker leher rahim sendiri disebabkan oleh penularan Human Papilloma Virus tipe 16 dan 18. Wanita yang mengalaminya karena pernah terpapar virus HPV dari kontak seksual, benda-benda yang sering dipegang, dan cara lain yang seharusnya dapat dihindari.

Misalnya, memiliki kebiasaan merokok atau menjadi perokok pasif dapat berdampak membuat wanita berisiko terinfeksi HPV. Karena, merokok dan paparan asap rokok dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Memiliki sistem kekebalan tubuh yang terganggu dapat meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Misalnya, kondisi seperti HIV dapat membuat Anda lebih mungkin untuk terkena infeksi HPV, di mana itu faktor risiko kanker serviks.

Meski menjadi salah satu momok yang mengancam kesehatan wanita di Indonesia, kanker serviks masih bisa dicegah. Salah satunya dengan mengetahui dan menyadari tanda-tanda dari kanker serviks sejak awal.

Ketua Umum Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia Prof Andrijono, SpOG(K) mengatakan, keputihan menjadi salah satu tanda-tanda penyakit kanker serviks. Selain perdarahan yang dialami wanita ketika berhubungan seksual.

"Paling gampang sih menandainya, kalau keputihan enggak hilang-hilang ditambah bau menyengat, harus cepat-cepat deteksi dini kanker serviks," imbuhnya di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Selebihnya, wanita yang mengalami perdarahan saat berhubungan seksual, juga menjadi tanda kedua bahwa Anda menderita kanker serviks. Jika memang mengalaminya, segera konsultasi dengan dokter.

"Kalau sudah punya suami dan minta berhubungan seks. Karena kalau perdarahan bisa jadi salah satu cara deteksi dini kanker serviks," kata Prof Andrijono.

Selain itu, pemberian vaksin HPV juga penting dilakukan, karena telah terbukti dapat mencegah penularan penyakit kanker serviks. Menurut Prof Andrijono, dengan melakukan vaksin, maka dapat membantu menurunkan angka kejadian dan kematian akibat kanker serviks.

"Vaksin HPV sudah tersedia di semua fasilitas kesehatan. Sejak usia anak sekolah, vaksin HPV sudah dapat diberikan, malah lebih ampuh menangkal dengan dua kali dosis. Harus diberikan kepada usia 10 tahun karena imunitas sistemnya masih bagus. Dan kita harapkan dampak protektifnya cukup panjang bisa sampai 20 tahun," jelasnya.

Selain melakukan vaksin HPV, wanita juga harus melakukan pap smear dan IVA test. Skrining ini menjadi salah satu cara deteksi dini agar tak terlambat mendapatkan terapi jika terdeteksi penyakit kanker serviks.

"Kanker serviks ini sudah diketahui pencegahannya dan dapat dicegah. Oleh karena itu, saya mendorong masyarakat untuk melakukan tes IVA, papsmear, dan tes DNA HPV," terangnya.

Karenanya, wanita yang sudah menikah juga diimbau untuk melakukan pemeriksaan papsmear atau IVA secara rutin. Deteksi kanker sejak awal bisa menyelamatkan nyawa, sebelum terjadi komplikasi yang lebih serius.

Kendala pencegahan dan mitos kanker serviks

Namun, masih banyak kendala yang dihadapi dalam mencegah bertambahnya kasus kanker serviks di Indonesia. Vaksin HPV ini masih terbilang cukup mahal dengan harga sekira Rp 750.000,- dan belum dijamin oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Kesadaran masyarakat juga masih belum tumbuh dengan baik. Prof Andrijono melihat sebagian wanita cenderung malas, malu, dan takut ketahuan ada penyakit. Tiga alasan ini biasanya yang membuat wanita urung tidur dengan memeriksakan kesehatan Miss V mereka.

Selain itu, mitos yang berkembang di masyarakat juga membuat wanita terancam secara psikis dalam berjuang melawan penyakit ini. Beberapa dari wanita ketakutan akibat mitos yang berkembang melalui informasi tersebut. Berikut mitos seputar kanker serviks yang beredar di masyarakat, dan kebenaranya yang sesungguhnya:

Mitos 1: Positif HPV pasti menyebabkan kanker

Human papillomavirus (HPV), infeksi yang dapat menyebabkan perubahan pada sel-sel pada serviks, yang dapat menyebabkan kanker serviks. Bila Anda didiagnosis positif untuk HPV, bukan berarti bahwa Anda pasti memiliki kanker serviks.

HPV bisa hilang sendiri berkat kerja sistem kekebalan tubuh melawan infeksi secara alami. Namun, bila virus ini berpeluang untuk mengembangkan perubahan sel pada leher rahim, bisa saja memicu kanker serviks dari waktu ke waktu.

Mitos 2: Kanker serviks hanya penyakit orang tua

Mungkin mitos yang paling umum bahwa kanker serviks pada wanita yang lebih tua. Padahal, kanker serviks dapat mempengaruhi perempuan dari segala usia.

"Rata-rata usia saat diagnosis prakanker serviks (dikenal sebagai displasia) adalah 29 tahun, dan karsinoma invasif biasanya dialami pada usia 47 tahun," ungkap Bradley Monk dalam tulisannya yang berjudul Myths & Facts about Cervical Cancer.

Mitos 3: Kanker serviks bisa menular

HPV yang menyebabkan kanker serviks ditularkan melalui kontak seksual. Infeksi virus ini sangat menular. Namun, sel-sel kanker itu sendiri, bagaimanapun tidak dapat menyebar dari satu orang ke orang lain.

Mitos 4: Kanker serviks menurun di keluarga

Tidak ada terbukti bahwa kanker serviks dapat diturunkan. Tidak seperti kebanyakan kanker lainnya, faktor genetik tidak memberikan peluang untuk mengembangkan penyakit ini. Kanker serviks disebabkan oleh HPV, yang mana ditularkan secara seksual.

Nah, kini Anda telah mengetahui fakta yang sesungguhnya. Jadi, cegah kanker serviks dengan hindari faktor risiko, deteksi dini, tes IVA, papsmear, dan tes DNA HPV, serta tepis mitos yang beredar. Lawan kanker serviks!

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini