Share

Yuk, Kenali Faktor Risiko Diabetes Tipe 2!

Maria Amanda Inkiriwang, Jurnalis · Jum'at 05 Mei 2017 13:36 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 05 481 1683963 yuk-kenali-faktor-risiko-diabetes-tipe-2-mZI785PZ7x.jpg Ilustrasi (Foto: Healthscience)

DIABETES Melitus tipe 2, salah satu momok penyakit yang disebabkan gaya hidup tidak sehat. Namun, diabetes dapat menimbulkan risiko kesehatan yang berkelanjutan jika tidak ditatalaksana dengan baik.

Prof Dr dr. Mardi Santoso, DTM&H, SpPD-KEMD, FINASIM, FACE, mengatakan bahwa banyak orang yang tidak melakukan deteksi dini. Padahal, mereka yang menderita seharusnya tahu lebih awal, tetapi baru diketahui adanya diabetes setelah terjadi komplikasi.

Umumnya, risiko diabetes merambat pada penyakit sindrom metabolik. Risiko diabetes melitus tipe 2 bisa memengaruhi kesehatan ginjal, gangguan jantung, kemungkinan amputasi akibat luka, bahkan memengaruhi sistem saraf di otak. Prof Mardi juga mengingatkan untuk mengenali faktor risiko diabetes tipe 2.

"Jangan lupa ukur lingkar perut. Jangan dilihat yang gemuk saja. Untuk wanita tidak boleh lebih dari 80 cm dan pria tidak lebih dari 90 cm," terang Prof Mardi di kawasan Gambir, Jakarta Selatan, Kamis 5 Mei 2017.

Adapun faktor risiko diabetes tipe 2 sebagai berikut:

- Umur di atas 45 tahun

- Indeks massa tubuh lebih dari 23 kg/m2

- Lingkar perut pria kurang dari 90 cm dan wanita kurang dari 80 cm

- Aktivitas fisik minimal

- Riwayat keluarga diabetes

- Riwayat melahirkan bayi kurang dari 5 kg

- Hipertensi lebih dari 140/90 mmHg

- HDL kurang dari 35 mg/dl dan trigliserida lebih dari 250 mg/dl

- PCOS atau penyakit yang berhubungan dengan resistensi insulin

- Riwayat penyakit kardiovaskular

Umumnya, pasien diabetes melitus tipe 2 perlu mendapatkan intervensi secara farmakologi, diet, dan juga aktivitas fisik. Prof Mardi mengatakan, intervensi ketiganya secara efektif dapat menurunkan kejadian risiko sekira 72 persen.

Prof Mardi, yang merupakan Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) wilayah Jakarta, selalu memberi imbauan betapa pentingnya deteksi dini, terutama selalu kadar gula darah di puskesmas. Bagaimanapun deteksi dini dapat menjadi langkah preventif sebelum terjadinya diabetes.

"Pencegahan diabetes itu preventif primer. Karena lebih bagus mengobati yang belum diabetes. Kalau sudah diabetes sudah tidak bisa diapa-apakan. Karena dalam waktu 10 tahun bisa saja terjadi komplikasi," tutupnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini