Share

Waspada Prediabetes, Cegah Menjadi Diabetes Tipe 2!

Helmi Ade Saputra-Maria Amanda Inkiriwang, Jurnalis · Minggu 07 Mei 2017 09:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 05 481 1684614 waspada-prediabetes-cegah-menjadi-diabetes-tipe-2-e7U1M28wpV.jpg Ilustrasi (Foto: Zeenews)

SEIRING dengan kemajuan gaya hidup modern, penyakit tidak menular semakin merajalela. Mulai dari variasi makanan dan minuman yang amat memanjakan lidah. Alhasil, penyakit tidak menular seperti diabetes melitus tipe 2 mulai mengincar siapa saja.

Pekiraan dari International Diabetes Federation 2011 , pada 2030 akan ada sekira 398 juta penduduk dunia akan mengalami prediabetes. Sementara itu,, hasil Riskesdas 2007 menemukan, prevalensi diabetes melitus tipe 2 di daerah perkotaan mencapai 5,7 persen. Sementara, prevalensi prediabetes hampir dua kali lipat atau sekira 11 persen.

"Warga DKI Jakarta angkanya juga cukup tinggi. Hasil Riskesdas (2013) menyebutnya ada 3 persen warga DKI Jakarta berisiko terkena diabetes," terang dr Widyastuti, MKM, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan DKI Jakarta di kantor Dinas Kesehatan, Gambir, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Dr Widyastuti juga mengatakan bahwa permasalahan yang kerap dialami oleh masyarakat perkotaan adalah diabetes melitus dan hipertensi. Hal yang mendasari angka diabetes melitus yang cenderung tinggi, tidak lain adalah gaya hidup yang tidak sehat. Tidak hanya orang dewasa saja. ia menambahkan, prediabetes juga bisa mengintai anak-anak di usia SMA.

"Berdasarkan kuesioner, ternyata 66 persen kurang bergerak. Ini salah satu faktor mengapa tingginya angka-angka penyakit tidak menular," kata dr Widyastuti.

Selain kurangnya aktivitas fisik, ternyata pola makan yang terlalu banyak dan tidak dimoderasi mengambil andil terjadinya prediabetes dan diabetes.

Dr Widyastuti juga mengingatkan, betapa pentingnya untuk melakukan faktor risiko dengan melakukan cek gula darah di puskesmas. Setidaknya, deteksi dini ini bisa mengidentifikasi apakah Anda mengalami prediabetes atau tidak.

Sulit mengenali prediabetes secara kasat mata karena gejala tidak ada. Bisa saja seseorang merasa sehat dan tidak merasa sakit, begitu diperiksa kadar glukosa darahnya ternyata menunjukkan gejala awal prediabetes. Bila dibiarkan dan tak dilakukan deteksi dini, prediabetes bisa berkembang menjadi diabetes.

Menurut Prof Dr dr Mardi Santoso, DTM&H, SpPD-KEMD, FINASIM, FACE, Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) wilayah Jakarta, sebetulnya terdapat perbedaan antara tahapan prediabetes dan diabetes. Salah satu caranya dengan mengetahui kadar glukosa darah.

"Dari pemeriksaan glukosa darah, pada waktu puasa, glukosa darahnya 100-125 mg/dl, ini dinamakan prediabetes. Hal ini dikarenakan kegagalan toleransi gula selama puasa. Bila prediabetes, intoleransi glukosa setelah 2 jam, bisa mencapai 140-199 mg/dl," jelas Prof Mardi di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Kamis 4 Mei 2017.

Ia menjelaskan, jenis prediabetes ada dua, yakni gangguan glukosa darah puasa dan gangguan glukosa darah setelah dua jam. Bila pasien mengalami gangguan pada keduanya, Prof Mardi menegaskan pasien tersebut sudah menderita diabetes.

"Kalau diabetes gejalanya ada banyak makan, banyak minum atau sering haus, berat badan turun tanpa sebab. Disertai juga gejala-gejala komplikasi seperti pandangan kabur, kesemutan, kram," terang Prof Mardi.

Perlu diketahui, bagi orang dengan diabetes, glukosa darah puasanya lebih dari 126 mg/dl, sementara glukosa darah setelah 2 jam di atas 200 mg/dl.

Karena gejalanya yang tidak tampak, Anda dianjurkan untuk melakukan cek gula darah secara rutin. Setidaknya cara ini dapat menjadi upaya preventif pencegahan diabetes melitus tipe 2.

Meski seseorang terdeteksi prediabetes, perlu dilakukan intervensi segera untuk menghindari mereka terjadinya diabetes. Membiarkannya tanpa melakukan intervensi dapat meningkatkan potensi terjadinya diabetes.

Dijelaskan oleh Prof Mardi, bila ditemukan gejala prediabetes, perlu dicegah jangan sampai terjadi diabetes.

"Bila ketahuan prediabetes, dalam 3-5 tahun dan tidak dilakukan intervensi dan dibiarkan saja, 25 persen jadi diabetes. Sementara 50 persen tetap prediabetes dan 25 persen kembali tidak diabetes," ujar Prof Mardi.

Pasien prediabetes perlu membenahi lagi pola hidupnya untuk menekan faktor-faktor risiko diabetes. Intervensi yang disarankan Prof Mardi, antaralain olahraga, mengatur makanan, menjaga makanan bergula, dan mengurangi makanan berlemak.

Memang sebagian masyarakat urung menjalani kegiatan yang lebih menyehatkan. Ada yang lebih memanjakan diri dengan minim aktivitas fisik dan menikmati tren makanan yang serba lezat.

Padahal, ketika prediabetes bisa dideteksi sejak awal, intervensi bisa lebih cepat dilakukan. Intervensi pola hidup diharapkan agar pasien prediabetes tidak menjadi diabetes.

"Oleh karena itu, pencegahan diabetes pada pasien prediabetes perlu diintervensi gaya hidupnya dan dikelola dengan obat, sehingga tidak terjadi diabetes," tutup Prof Mardi.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini