Image

LIFE STORY #4: Baby Rivona, "Hidup Kami Ibarat Dipeluk oleh HIV"

Maria Amanda Inkiriwang, Jurnalis · Kamis 18 Mei 2017, 20:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 05 18 481 1694346 life-story-4-baby-rivona-hidup-kami-ibarat-dipeluk-oleh-hiv-qPFKjhcmfE.jpg Ilustrasi (Foto: Pinterest)

TAK sedikit orang menunjuk tangan dan yakin bahwa penderita HIV/AIDS adalah seorang yang tidak bermoral. Segelintir orang menilai bahwa HIV, penyakit yang disebabkan oleh perilaku tidak bermoral, karena penularannya melalui seks dan penggunaan narkotika.

Mengetahui saya mengidap HIV untuk pertama kali, saya hilang asa. Pikiran saya sudah pasrah menerima ajal. Menunggu mati, ajal tak kunjung menjemput. Saya cari jawaban mengapa saya tidak mati juga.

(Baca juga: LIFE STORY #1: "Saya Baby Rivona, Menanti Kematian Tiba")

Saya pergi ke rumah sakit bersama teman-teman komunitas untuk memberi penguatan kepada sesama HIV dan keluarganya. Di bangsal itu ada delapan tempat tidur, di atasnya berbaring mereka penderita HIV yang sekarat. Saya menatap mereka dari pintu bangsal sambil berkata dalam hati, "Ya Allah, makasih ya, gue masih bisa berdiri, gue masih bisa sehat, dan gue masih baik-baik saja."

Baby Rivona (Foto: Dokumen pribadi)

Saya tidak ingin seperti mereka. Baby Rivona masih ingin hidup, saya cari cara untuk hidup. Bahkan, selama 14 tahun lebih menderita HIV, saya tidak pernah terkena infeksi apapun. Saya jaga kondisi dengan baik, minum obat ARV (antiretroviral virus) dan tetap sehat. Karena di lima tahun pertama biasanya terjadi penurunan sistem imunitas. Karena itulah, saya meminta dokter untuk meresepkan ARV kepada saya.

Menjadi sangat salah pada saat kami mengidap HIV, semua menjadi masalah. Karena HIV, seakan masalah merambat ke keluarga, anak-anak, dan kehidupan kita. Saya, Baby Rivona, juga pernah mengalaminya. Menyakitkan memang, tapi saya paham hal ini terjadi akibat informasi yang tidak akurat sampai kepada masyarakat.

Pernah diri ini bertanya, untuk apa begitu banyak acara di hari HIV/AIDS. Begitu berderet jadwal acara di bulan Desember. Namun, untuk apa bila situasi tidak berubah. Stigma yang melekat, menyakiti penderita HIV untuk tetap bungkam dimakan stigma? Selepas hari HIV/AIDS dunia, kami dilupakan. Meneriaki soal HIV bukan seperti bertepuk tangan memperingati ulang tahun yang dirayakan setahun sekali.

Semua ini kerap membuat saya jenuh. Bagaimanapun, sebagai aktivis dari Ikatan Perempuan Positif Indonesia, saya tetap memegang prinsip mengutarakan informasi akurat seputar HIV.

(Baca juga: LIFE STORY #2: "Tak Perlu Menyamarkan Wajah dan Nama, Saya Bukan Seorang Kriminal"

Apakah saya ini seorang pendamping di komunitas ini? Saya ini seorang Baby Rivona yang enggak sabaran. Jadi seorang konselor pun tidak cocok. Bayangkan saya selalu mendengar curahan hati orang yang mau bunuh diri karena status HIV mereka. Sementara saya sudah belasan tahun hidup dengan penyakit ini. Saya pernah menunggu mati, tapi nasib dan logika memeluk jiwa ini untuk bertahan hidup.

Mendengar curhatan sesama ODHA yang ingin bunuh diri, saya katakan begini kepada mereka, "Kapan bunuh diri, kita bunuh diri bareng. Karena saya sudah HIV lama dan capek juga."

Kamu boleh anggap saya terlalu kasar. Tapi saya punya sikap untuk mengajak mereka tetap move on, maju! Kalau ingin hidup, kita cari jalan dan caranya. Kalau kalian ingin mati, kita juga bisa cari caranya.

Menurut mereka, saya adalah seorang motivator dan inspirator. Saya tidak tahu mengapa mereka menyebut Baby Rivona demikian. Berkat bilur-bilur hidup ini, saya berusaha menjadi diri saya yang sekarang. Baby, seorang HIV positif, yang memiliki dua anak, single fighter, dan mempersiapkan anaknya untuk mengetahui sang ibu HIV positif.

Stigma itu seperti debu yang menempel di sepatu boots saya. Saya tidak pikirkan lagi, kalau terlalu banyak debu menempel, tinggal disingkirkan.

I don't care. Lo mau stigma gue atau mau diskriminasi gue, mau ngusir gue dari kontrakan, elo yang bermasalah sama gue nanti. Karena gue akan tuntut sampai pengadilan apapun.

Sementara, ada juga teman-teman yang takut karena keluarga besarnya tahu. Apalagi bila sekolah anaknya tahu. Mereka terlalu takut karena diri mereka sendiri. Tidak lelahkah menutup diri?

Hidup kami ini ibarat dipeluk oleh HIV. Bila diri lemah, persoalan yang tidak ada hubungannya dengan penyakit ini, dikaitkan dengan HIV. Moral, hidup, dan HIV adalah hal yang berbeda. Just put aside! Pilah, singkirkan mana yang menjadi masalah hidup dan selesaikan. Sementara untuk HIV, saya cuma perlu minum obat secara teratur dan jaga kesehatan, jangan terlalu lelah. Simpel memang, tapi terkadang hal ini sulit dilakukan oleh penderita HIV.

Saya punya cara untuk membantu mereka yang masih takut melawan stigma dan bicara seadanya kepada kerabat terdekat. Tidak akan mempan memberi titah dan menasihati mereka dengan kalimat mutiara. Biarkan saya berteriak sejenak di hadapan publik dan media. Setelahnya, saya meminta mereka untuk melihat dan membaca apa yang sudah tayang di media massa. Cara ini akan lebih kena di hati mereka.

(Baca jug: LIFE STORY #3: "Siapapun Baby Rivona, Dia Tetap Ibu Saya")

Kalau kamu mau jihad, jangan pasang bom bunuh diri. Lakukan saja seperti yang saya lakukan, itulah jihad. Bukan hidup namanya kalau tidak ada konsekuensi yang mengikuti. Misalnya, anak saya yang dikeluarkan dari sekolah atau saya yang dikeluarkan dari kontrakan. Pahit memang, tapi leganya bukan main. Bahkan, ketika bicara, saya merasa lebih kuat daripada yang saya bayangkan.

Menginjak usia 50 pada tahun ini dan hidup dengan HIV, saya masih mencintai hidup. Saya tahu caranya melakukan kebahagiaan yang membuat lupa bahwa saya punya HIV. Belenggu batas hanya di dalam pikiran, sebetulnya setiap orang memiliki jiwa yang bebas.

Selain aktif sebagai aktivis, Baby Rivona merupakan seorang penulis lirik untuk beberapa band di Malang. Liriknya sebagai medium penyaluran emosi yang dipendam Baby selama ini. Ketahui kisah Baby Rivona selanjutnya, hanya di Okezone.com setiap pukul 20.00 WIB.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini