nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Marpangir, Tradisi Orang Batak Sambut Ramadan

Liansah Rangkuti, Jurnalis · Jum'at 26 Mei 2017 18:54 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 05 26 406 1700802 marpangir-tradisi-orang-batak-sambut-ramadan-aMZdMb0kcn.jpg Tradisi Marpangir (foto: Liansah Rangkuti/Okezone)

ADA yang unik dari kebiasaan warga menyambut bulan Ramadan. Umat muslim, khususnya bersuku Batak Mandailing dan Angkola Sipirok, masih kerap melaksanakan tradisi leluhurnya.

Tradisi ini sebenarnya masih disoal. Sebab, sedikit saja bergeser, maka berpotensi menyebabkan kemusyrikan. Sehari sebelum Ramadan. Dari dapur-dapur rumah warga kerap tercium aroma wewangian.

Hasil rebusan beberapa rempah-rempah tersebut segera akan dijadikan prosesi mandi keramas menyambut kehadiran bulan suci Ramadan. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya tradisi marpangir (mandi pangir) atau balimo (mandi jeruk limau) sudah dijadikan sarana bersih bersih diri.

Bagi banyak kalangan, khususnya, warga bersuku Batak, bahkan, kalangan muslim Melayu sudah demikian kenal dengan istilah tersebut. Tradisi itu, wujud rasa gembira menyongsong hadirnya Bulan Suci Ramadan.

Sehingga, ketika sore sehari sebelum Ramadan, warga membasuh seluruh tubuh (mandi keramas) dengan rebusan rempah-rempah tersebut.

Untuk mandi itu, warga memilih melakukannya di lokasi-lokasi pemandian alam. Khusus untuk di Kabupaten Tapanuli Selatan Sumatera Utara, salah satu daerah tujuan adalah Desa Aek Sijorni Kecamatan Sayur Matinggi. dengan ketersediaan sungai kecil yang mengalirkan air jernih dan sejuk.

Karena, kegiatan mandi pangir tersebut juga memiliki khasiat pada tubuh, bukan untuk kemusyrikan yang menimbulkan dosa, sehingga mandi pangir jadi budaya. Dengan kata lain bahan pangir yang diramu sendiri atau dibeli dari pasar dan dipakai untuk mandi, tanpa ritual atau mantera-mantera (syarat-sayarat tertentu).

"Memang, setelah mandi pangir terasa tubuh akan lebih fresh," aku Yuni Harahap salah seorang warga Kota Desa Aek Badak, Jumat (26/5/2017).

Memang, sejak dulu mereka tidak luput memakai ramuan itu jika jelang Ramadan. Dan, itu dijadikan bahan pembasuh tubuh ketika sore setelah selesai melakukan ziarah kubur.

"Tapi, bukan sebagai syarat untuk menyambut puasa. Dan, bukan karena itu puasa tidak syah. Mandi itu hanya sekedar rasa sukacita menyambut bulan Ramadhan," bebernya.

Ramuan Pangir

Komposisi ramuan pangir biasanya perpaduan dari beberapa potong jeruk purut/jeruk limau. Ditambah mayang pohon pinang, beberapa helai daun pandan, daun nilam, akar pohon usar dan lainnya.

Semakin banyak jenis ramuan yang dipergunakan akan kian menghasilkan aroma khas tersendiri. Kesemua itu, secara sederhananya direbus dengan air sampai mendidih dan mengeluarkan aroma wangi yang khas. Bagi Pedagang rempah-rempah.

Berdagang pangir tentu menghasilkan rupiah. Sebab, pada umumnya warga lebih berminat untuk membeli bahan jadi dibanding mesti meramu sendiri. Alasannya, keterbatasan waktu dan kian sukarnya mendapatkan bahan bahannya.

"Lumayanlah. Hasil jualan pangir dapat untung. Sebab, banyak warga yang membeli," ujar Parwan (35), salah seorang pedagang rempah di Pasar Sayur Matinggi, Tapsel.

Tak kurang dari 700-900 ikat ramuan tersebut mampu dijual dengan mudah. "Ya, kita dapat menjual sedikitnya 700 ikat," tambahnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini