Tak Harus ke RS, Deteksi Dini PPOK Bisa Dilakukan di Puskesmas

Maria Amanda Inkiriwang, Jurnalis · Selasa 30 Mei 2017 15:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 30 481 1703240 tak-harus-ke-rs-deteksi-dini-ppok-bisa-dilakukan-di-puskesmas-3Q77iwNnPF.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PENYAKIT Paru Obstruktif Kronik atau PPOK bisa menyerang siapa saja, terutama mereka yang kerap terpapar polusi udara, tidak terkecuali perokok. Karena sifatnya yang cenderung lambat progresif, penyakit ini sebetulnya bisa dicegah dan dideteksi sejak dini.

Dr Dianiati Kusumo Sutoyo, SpP(K), spesialis paru klinis, mengatakan bahwa pasien perlu memeriksakan dirinya, paling tidak di puskesmas, sebagai langkah awal pencegahan. Di sinilah perannya puskesmas sebagai ujung tombak upaya promosi, prevensi, kuratif, serta rehabilitasi.

"Puskesmas tidak hanya berperan mengobati, tetapi fungsinya promosi. Mereka perlu mempromosikan penyebab PPOK. Fungsi prevensi, minta perokok untuk berhenti merokok," terang dr Dianiati di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin 29 Mei 2017.

Bila diketahui PPOK, puskesmas diimbau berupaya agar jangan sampai stadium pasien PPOK kian laju. Bila diketahui, ada baiknya dilakukan pengobatan sedini mungkin untuk memperlambat perkembangan penyakitnya.

"Sebuah studi mengatakan, dengan melakukan pengobatan dini jauh lebih baik responnya. Gunanya deteksi dini ini untuk melakukan pengobatan dini," tambah dr Dianiati.

Sementara itu, fungsi kuratif juga perlu dilakukan oleh puskesmas untuk bisa bekerja sama dengan rumah sakit. Karena menenangani PPOK yang memasuki stadium lanjut. Karena banyak orang terdeteksi di stadium lanjut, sehingga peran rumah sakit paling dibutuhkan.

Selain itu, puskesmas juga diharapkan agar mereka bisa mengedukasi pasien untuk menghindari faktor risiko terjadinya PPOK. Sehingga pasien tak hanya mendapatkan penanganan medis, tapi ada informasi yang bisa diperolehnya seputar penyakit tersebut.

"Puskesmas juga diharapkan memiliki fungsi rehabilitasi. Mereka juga bisa mengajarkan pasien untuk latihan napas, exercise, edukasi untuk berhenti merokok," tukas dr Dianiati.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini