Kisah Pengabdian Dokter di Pedalaman Papua

Agregasi Antara, Jurnalis · Rabu 31 Mei 2017 16:13 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 31 481 1704497 kisah-pengabdian-dokter-di-pedalaman-papua-qUpVrGOxlV.jpg Ilustrasi (Foto: Foxnews)

DOKTER Mary bersama tujuh orang rekannya yang masuk dalam Tim Nusantara Sehat periode pertama sudah mempersiapkan hal terburuk yang akan dihadapinya saat bertugas menjadi pelayan kesehatan di Distrik Ninati, Kabupaten Boven Digoel, Papua.

Tapi hal terburuk yang sudah dipersiapkan sekalipun masih belum cukup. "Pertama kali kami sampai di sana benar-benar di luar bayangan kami," kata Mary Sabrina Purba di Jakarta, Selasa.

Mary adalah dokter muda asal Medan yang mengikuti program Nusantara Sehat dan telah menyelesaikan masa tugas selama dua tahun.

Tim tenaga kesehatan penempatan Distrik Ninati, Boven Digoel, diberi informasi bahwa jalan di sana tanpa aspal, kenyataannya jalan dari kabupaten untuk mencapai distrik lebih tepat disebut lokasi penambangan, hanya dari tanah merah yang berubah menjadi lumpur dengan kedalaman setinggi ban mobil jeep.

Informasi lainnya, puskesmas di Distrik Ninati kekurangan tenaga kesehatan. Faktanya saat Mary dan kawan-kawan pertama kali tiba, puskesmas tutup sejak bertahun-tahun lalu dengan foto Presiden Soeharto masih terpajang dalam ruangan.

"Sebelumnya masyarakat berobat di pos Satgas TNI perbatasan, atau pergi ke klinik di Papua Nugini," kata Mary.

Distrik Ninati hanya berjarak lima kilometer dengan kampung terdekat di Papua Nugini yang memiliki klinik kesehatan. Sisanya, masyarakat melakukan pengobatan tradisional sesuai adat istiadat ketika menderita penyakit.

Sesampainya di Distrik Ninati yang ditempuh dalam waktu satu hari dari kota Kabupaten Boven Digoel, Mary dan tim membangun puskesmas mulai dari nol dibantu dengan tiga petugas kesehatan yang sudah ada sebelumnya.

"Di sana tidak ada listrik, tidak ada pasar, mata uang campuran Rupiah dan Kina. Kami setiap hari hanya makan mi instan dan ikan kepala putus alias ikan kaleng. Logistik kami beli dari distrik sebelah, kalau harus ke kabupaten berat di ongkos kakak, karena ojek sekali jalan Rp2 juta, pulang pergi sudah Rp4 juta," kata dia.

Dokter berusia 29 tahun itu menceritakan tugasnya bersama tim di Ninati yang harus "menjemput bola" dalam memberikan pelayanan dan penyuluhan kesehatan dengan mengunjungi langsung ke rumah-rumah.

Setiap awal bulan Mary dan timnya harus berjalan kaki mengunjungi satu per satu dari lima kampung yang ada di Ninati setiap harinya untuk mengadakan puskesmas keliling. Jalan kaki menuju kampung paling jauh berjarak 17 kilometer dengan waktu tempuh lima jam, ada yang 13 kilometer, dan paling dekat lima kilometer.

Para peserta Nusantara Sehat ditugaskan tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif, tapi misi utamanya ialah mengubah pola hidup masyarakat daerah jadi lebih sehat.

Mary mengisahkan betapa sulitnya mengubah pola hidup masyarakat Ninati untuk hidup lebih sehat. Namun dengan upaya yang dilakukan terus menerus itu membuahkan hasil.

"Dari yang tidak pernah mandi, setahun tiga kali bagikan sabun, sikat gigi, dan odol. Kami adakan lomba mandi bersih, kami ajak nona-nona muda mandi di kali dengan suster-suster, menggunakan sabun bagaimana, sikat gigi jangan dibagikan karena menyebarkan penyakit," kata Mary.

Suku Muyu yang menjadi masyarakat Distrik Ninati memiliki budaya tentang kelahiran seorang anak yang rentan sekali terjadi komplikasi kesehatan.

Perempuan hamil yang akan melahirkan ditempatkan pada gubuk kecil di luar rumah khusus untuk melahirkan bernama befak, dan saat persalinannya hanya boleh ditolong oleh sang suami.

"Sejauh ini kami memang tidak bisa 100 persen mengubah tapi setidaknya mereka mau memanggil kami ke befak untuk menolong. Mereka sadar kalau sendiri menolong terjadi hal yang tidak dingingkan, atau kematian ibu dan bayi. Kami berikan penyuluhan, kami hanya petugas kesehatan untuk menolong, tidak akan menyalahi aturan adat," kata dia.

Kesehatan Berkeadilan

Peserta program Nusantara Sehat periode pertama yang terdiri dari 142 orang, 20 tim untuk 20 puskesmas di Tanah Air diberangkatkan April 2015 dan telah menyelesaikan pengabdiannya Mei 2017.

Hingga saat ini Kementerian Kesehatan telah mengirim 1.769 tenaga kesehatan, terdiri dari dokter, bidan, perawat, ahli laboratorium medik, tenaga kesehatan masyarakat, ahli gizi, dan tenaga kefarmasian yang ditempatkan di 311 puskesmas daerah terpencil, kepulauan, dan perbatasan seluruh Indonesia sejak 2015.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan para peserta Nusantara Sehat inilah orang-orang yang membela dan memperjuangkan negara dengan memberikan pelayanan kesehatan seadil-adilnya di tengah berbagai permasalahan yang merebak.

"Negara kita ini bukan negara yang mudah dijangkau. Ada 17 ribu pulau dan geografis yang tidak sama. Tenaga kesehatan memang inginnya bertugas di kota besar, tapi masyarakat inginkan keadilan berada, maka kita harus upayakan keadilan yang merata," kata Nila.

Dia mengatakan program Nusantara Sehat akan terus dilanjutkan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang tidak mendapat akses sekaligus juga mengubah perilaku masyarakat.

"Yang kita harapkan bukan cuma memberi pengobatan, tapi mengubah perilaku masyarakat. Untuk mengurangi penyakit cacingan harus cuci tangan dengan sabun bukan memberikan obat cacing," kata Nila.

Ada satu cerita lucu datang dari dokter Prabjot Singh, peserta Nusantara Sehat penugasan di Puskesmas Long Pahangai Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, yang didatangi pasien dengan enam anak.

"Anaknya banyak sekali ibu, apa tidak KB?" tanya dokter Singh.

"Sudah KB pak dokter," kata ibu enam anak.

Dokter Singh dan bidan yang mendampinginya penasaran.

"KB-nya KB apa?" kata bidan.

"KB pil," kata ibu itu lagi. Dokter dan bidan makin penasaran.

"Memang bagaimana cara makan obatnya?" tanya dokter.

"Pil KB 10 saya giling saya campur dalam sop," katanya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini