nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

"Kami Tidak Menerima Anak Kecil sebagai Mualaf"

Agregasi Antara, Jurnalis · Senin 05 Juni 2017 16:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 05 196 1708027 kami-tidak-menerima-anak-kecil-sebagai-mualaf-I6Lskok8zP.jpg (Foto: Instagram)

PEKANBARU – Menjadi seorang mualaf tidak serta merta bersamaan dengan adanya niat menjadi seorang muslim sejati. Diperlukan proses serta kesabaran sebelum memasuki tahapan pengucapan kalimat syahadat.

Tahapan bagi para calon mualaf dimulai dengan mengikuti tahapan wawancara. Jika lolos, mereka akan diberikan pemahaman dan konsekuensi yang harus dijalani sebagai seorang muslim.

"Kita jelaskan konsekuensi sebelum mereka mengucap dua kalimat syahadat sebagai muslim," kata Ketua Umum Badan Kesejahteraan Masjid Raya Annur Kota Pekanbaru, Faisal Qomar Karim, Senin (5/6/2017).

Faisal menjelaskan, saat ini pengurus Masjid Raya An-Nur membina puluhan mualaf, atau orang dewasa yang baru memeluk agama Islam. "Pembinaan dilakukan melalui mualaf center yang dibentuk sejak 2015. Hingga kini ada 70 orang yang dibina di sana," ulasnya.

Ia mengatakan, setelah melalui proses interview dan pendalaman, para calon mualaf akan mengikuti tahapan pembacaan syahadat. Upacara pelaksanaan pembacaan dua kalimat syahadat dilakukan setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu di Masjid An-Nur. "Supaya banyak yang melihat dan menyaksikan," katanya.

Menurut dia, "mualaf center" sangat berhati-hati dalam melakukan tugasnya karena tidak ingin orang yang masuk Islam justru tidak bisa mempertanggungjawabkan keputusannya. "Karena itu, kita tidak menerima anak kecil sebagai mualaf," ujarnya.

Ia mengatakan, bimbingan rohani yang diberikan "mualaf center" adalah dengan melakukan pengajian dan tausiyah setiap hari Minggu. Mereka dikumpulkan dalam satu kelompok untuk menghilangkan rasa sungkan mereka untuk belajar Islam. "Kami juga mendorong bagi lelakinya untuk khitan bagi yang belum," ujarnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini