nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Studi: Mimpi Buruk Terjadi Bisa karena Adanya Penyakit di Otak

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 09 Juni 2017 22:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 06 09 481 1711877 studi-mimpi-buruk-terjadi-bisa-karena-adanya-penyakit-di-otak-NmjpfxYJiK.jpg Ilustrasi (Foto: Cloudfront)

TAHUKAH Anda dari mana mimpi yang dialami ketika tidur berasal? Periset mengatakan bahwa mimpi berasal dari kelompok sel tertentu di batang otak yang bertanggung jawab untuk mengendalikan tidur.

Hal itu dikenal juga dengan nama Rapid Eye Movement (REM). Dari studi yang dilakukan oleh periset, ditemukan fakta bahwa kerusakan pada kelompok sel itu menyebabkan gangguan tidur yang disebut REM Behavior Disorder (RBD). Ternyata RBD membuat seseorang mengalami mimpi buruk.

Temuan ini memiliki implikasi yang jauh lebih luas dibanding harus menunjukkan sumber neurologis dari mimpi. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa 80% orang yang terkena RBD akan mengalami perkembangan penyakit otak yang tidak dapat disembuhkan. Dengan adanya temuan baru ini, para perusahaan obat bisa menciptakan terapi yang memperlambat perkembangan penyakit neurodegeneratif.

“Untuk beberapa alasan, penyakit akan menyerang sel-sel di area tidur REM. Kemudian penyakit neurodegeneratif akan menyebar ke otak dan mempengaruhi area lain yang menyebabkan gangguan seperti penyakit Parkinson," kata peneliti utama di studi tersebut, John Peever seperti yang dilansir dari Foxews, Jumat (9/6/2017).

Peever yang juga seorang profesor biologi sel dan sistem di University Of Toronto mengatakan saat tidur nyenyak, tubuh layaknya seseorang yang sedang bersepeda. Mereka mengalami tidur REM beberapa kali. Selama tidur REM, neuron di batang otak mengirim sinyal ke korteks serebral otak dan juga sumsum tulang belakang tubuh untuk mencegah otot bergerak. Apabila tidur REM sehat, kebanyakan orang tidak akan bergerak selama tidur.

Sebaliknya, orang yang memiliki RBD sering mengalami mimpi buruk dan bergerak selama mereka tidur REM. Bahkan yang terparah, mereka bisa melukai diri sendiri dan siapa saja yang mungkin tidur di depan mereka. Kelainan ini pertama kali dijelaskan oleh Dr. Mark Mahowald dan Dr. Carlos Schenck, dari University of Minnesota dalam buku berjudul “In Principles and Practice of Sleep Medicine” yang terbit pada tahun 1985.

Dalam buku itu, kedua dokter menceritakan sejarah kasus orang-orang yang terkena dengan gangguan RBD. Diantaranya seorang pria berusia 77 tahun yang berperilaku kasar dalam tidurnya dan kadang-kadang melukai istrinya, lalu ada seorang ahli bedah berusia 60 tahun yang megalami perasaan diserang saat tidur dan keinginan untuk lompat dari tempat tidur ketika mengalami mimpi buruk. Ada pula seorang kepala sekolah pensiunan berusia 57 tahun yang secara keliru meninju dan menendang istrinya sambil mengalami mimpi buruk.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan sejak saat itu, Peever menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang mengalami RBD bisa mengembangkan satu dari tiga penyakit otak progresif. Salah satunya adalah penyakit Parkinson, yang merupakan gangguan degeneratif sistem saraf pusat yang menimpa sistem motorik. Penyakit kedua yang mungkin diderita adalah demensia dengan badan Lewy. Penyakit ini menyebabkan kelupaan, fluktuasi kewaspadaan, halusinasi visual, dan kesulitan berjalan. Terakhir adalah kelainan yang disebut multiple system atrophy. Penyakit itu bisa mempengaruhi bagian sistem saraf yang mengendalikan gerakan sukarela serta gerakan tak disengaja termasuk tekanan darah dan pencernaan.

Penyakit otak seperti Parkinson dan demensia dengan tubuh Lewy biasanya terjadi enam sampai lima belas tahun setelah diagnosis RBD. Sampai sekarang, hubungan antara RBD dan penyakit neurologis ini bersifat anecdotal. Periset yang mempelajari otak kadaver dari orang-orang yang menderita RBD dan penderita penyakit otak memang menemukan kerusakan pada neuron di batang otak. Tapi bukan berarti kerusakan itu menyebabkan RBD. Korelasi antar keduanya mungkin adam namun tidak menjadi hubungan sebab akibat.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini