Image

Tak Mudah, Perjuangan Endy Menjalani Puasa Ramadan di Tiongkok

Vessy Frizona, Jurnalis · Senin 19 Juni 2017, 19:13 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 19 196 1719991 tak-mudah-perjuangan-endy-menjalani-puasa-ramadan-di-tiongkok-HroTIWZvZ4.jpg Ilustrasi (Foto: Ibtimes)

PUASA pada bulan Ramadan hukumnya wajib bagi umat Islam karena merupakan bagian dari rukun Islam. Ramadan merupakan bulan yang istimewa selalu disambut dengan penuh suka cita karena bulan ini penuh berkah dan ampunan.

Di beberapa negara muslim dan mayoritas muslim suasana Ramadan begitu terasa. Kaum muslim bersama-sama melaksanakan ibadah tarawih, sahur, berbuka puasa bersama, serta memenuhi masjid-masjid untuk beribadah. Bahkan, aktivitas sehari-hari pun bisa berbeda karena banyak orang lebih memilih khusus menjalani ibadah. Tak ketinggalan, puasa Ramadan juga menjadi ajang berkumpul bersama keluarga.

Namun, bagaimana dengan kondisi seorang muslim yang harus berpuasa di negara minoritas penduduknya beragama Islam? Entah dalam rangka studi, bekerja, atau memang tinggal di wilayah tersebut. Di mana suasana Ramadan tak terasa sedikit pun.

Seorang pelajar muslim asal Indonesia yang sedang menjalani studi Program PhD Computer Science di Tiongkok, Endy Sjaiful Alim, ST. MT., menceritakan pengalamannya berpuasa di negara tersebut. Baginya perjuangan kaum minoritas berpuasa di Tiongkok tidaklah mudah.

“Di Tiongkok walaupun minoritas tapi ada suku asli Tiongkok yang mayoritas Muslim. Biasanya dia suku Hui dari daerah Lan Zhou. Ada juga banyak warga asing yang studi di Tiongkok dari negari Muslim seperti Pakistan, Turki, Irak, Kazastan,” papar Endy kepada Okezone, Senin (19/6/2017).

Lebih lanjut ia menceritakan bahwa secara umum memang kaum muslim di sana dihadapkan pada kesibukan sehari hari yang seolah tidak ada kaitannya dengan Ramadan. Karena etos kerja masyarakat Tiongkok yang rajin, kerja keras, dan etos akademik yang menuntut mereka belajar dengan tekun. Tidak peduli sedang puasa.

“Kesulitan yang umum terasa karena puasa di musim panas durasi siangnya lebih lama (selama 16-17 jam). Disamping itu, terkadang jadwal ibadah yang berbenturan dengan jadwal kuliah atau aktivitas sehari hari. Malam hari yang singkat jadi seolah baru istirahat sebentar sudah harus bangun sahur. Ini tantangan tersendiri,” urai pria yang menempuh studi di Huazhong University of Science & Technology (HUST) ini.

Bagi Endy menjalani puasa di negeri Tiongkok adalah pengalaman yang berbeda. Untuk salat saja, ia dan kaum muslim lainnya harus mencari tempat dan izin agar bisa menjalani salat rutin pada siang dan sore hari karena tak tersedia masjid atau musola di sekitar kampus atau tempat umum.

“Alhamdulillah ini adalah pengalaman yang berbeda dan banyak hikmahnya. Untuk ibadah, atas dasar prinsip tidak meninggalkan kewajiban rutin (belajar), kami mendapat izin untuk salat. Jadi kami salat di taman atau di koridor kampus, sejauh ini tidak diusik dan dipersilahkan. Namun target aktivitas studi diminta sesuai komitmen,” tukasnya.

(vin)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini