Image

Cara Mahasiswa Indonesia Berburu Suasana Ramadan di Tiongkok

Vessy Frizona, Jurnalis · Senin 19 Juni 2017, 20:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 19 196 1720019 cara-mahasiswa-indonesia-berburu-suasana-ramadan-di-tiongkok-MmWVWDBO48.jpg Ilustrasi (Foto: Islamhashtag)

SUASANA Ramadan jelas sangat berbeda di antara negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim dan non-muslim. Ujian tentunya sangat berat bagi kaum muslim yang berpuasa di negara minoritas.

Rasanya, mungkin seperti sendirian dan ada di dunia lain di tengah-tengah kerumunan banyak orang. Tak terdengar azan magrib pertanda berbuka puasa, sepi saat sahur, dan tak bisa salat tarawih berjamaah.

Namun, pernahkah Anda mendengar ungkapan, “kamu tidak sendiri”. Ya, meski berada di negara minoritas tetapi umat muslim juga tersebar belahan dunia mana pun, salah satunya di Tiongkok. Jadi pasti ada kaum muslim lainnya berada di negara yang tersohor dengan Tembok China-nya tersebut.

Ternyata benar saja, menurut Endy Sjaiful Alim, ST. MT., mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Huazhong University of Science & Technology (HUST) kota Wuhan Propinsi Hubei, ada suku asli Tiongkok yang mayoritas muslim. Mereka adalah suku Hui dari daerah Lan Zhou.

Keberadaan suku tersebut setidaknya memberi rasa tenang bagi pendatang muslim di Tiongkok. Mereka seperti punya saudara di sana. Adanya penduduk muslim di Tiongkok membantu para pendatang muslim lainnya untuk merasakan suasana Ramadan. Dengan mendatangi masjid, Anda akan berjumpa saudara seiman di nergara orang.

“Salah satu cara menciptakan nuansa relegius di bulan Ramadan di Tiongkok dengan mendatangi masjid. Di masjid kita akan bertemu komunitas muslim baik asli dari Tiongkok maupun para pelajar asing dari negara muslim, di masjid disediakan ta'jil/iftar bersama dan kalau bulan puasa ada salat jamaah Magrib, Isya dan Tarawih,” kata Endy kepada Okezone, Senin (19/6/2017).

Cara yang lainnya adalah berkumpul dengan komunitas muslim Indonesia. Bisa melalui teman-teman muslim di Persatuan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT). Maupun komunitas muslim seperti Cabang Istimewa Muhammadiyah Tiongkok.

Kebetulan Cabang Istimewa Muhammadiyah mengadakan berbagai lomba menulis dan apresiasi seni religius. Disamping juga mengadakan buka bersama sesama warga Indonesia yang beragama muslim di Tiongkok kususnya Kota Wuhan.

“Selain itu, bisa juga dengan berkumpul bersama komunitas mahasiswa internasional. Di Tiongkok ada banyak mahasiswa asing dari negeri-negeri muslim seperti Pakistan, Turki, Irak, Iran, muslim Banglades, bahkan banyak mahasiswa Afrika yang muslim,” sambungnya.

Biasanya mereka juga mengundang berbuka bersama dan bahkan mengantar makanan berbuka dan sahur ke asrama.

“Di sini justru kami mendapatkan pengalaman yang berbeda. Pengalaman menikmati multikulkturalisme dimana masing negara muslim tersebut juga memiliki kebiasaan dan sajian yang khas di bulan Ramadan,” papar Ketua PCI Muhammadiyah Tiongkok ini.

(vin)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini